Tampilkan postingan dengan label sulawesi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sulawesi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 Maret 2014

Menyeramkan, Tradisi Ma’nene Masyarakat Toraja

Menyeramkan, Tradisi Ma’nene Masyarakat TorajaMayat ini akan berjalan sendiri ke makamnya setelah diberi mantera-mantera.
Di Tanah Toraja ada sebuah ritual atau kebiasaan dalam prosesi pemakaman. Cukup unik. Dan, mungkin menyeramkan. Mayat yang telah disemayamkan bertahun-tahun di sebuah tebing tinggi dan kuburan batu, tiba-tiba jasadnya bangkit. Mayat itu kemudian berjalan mencari rumahnya. Setiba di rumah, dia akan tidur lagi. Cerita mayat berjalan ini sudah dikenal masyarakat Toraja sejak jaman leluhur. Hingga kini ritual tersebut masih ada dan bisa dilihat dengan mata telanjang.
Kabut tipis menyelimuti pegunungan Balla, Kecamatan Baruppu, Tanah Toraja, Sulawesi Selatan. Pertengahan Agustus silam, merupakan hari yang mendebarkan. Selain kampung Baruppu diterjang kabut hebat ditambah dinginnya angin pagi, hari itu juga menjadi kesibukan warga Baruppu.
Di tengah balai-balai rumah, mereka menggelar sebuah ritual. Mereka menyebutnya: Ma’nene. Sebuah ritual untuk mengenang leluhur, saudara dan handai taulan yang sudah meninggal. Dari sinilah misteri budaya Tanah Toraja terkuak.
Seorang wanita tua terlihat dikelilingi warga. Semua orang memandang serius. Siapa wanita itu? Entahlah. Dilihat dari belakang, dia usianya kira-kira 60-70 tahun. Sangat tua. Rambutnya tergerai dengan lebat. Rambutnya sudah ditumbuhi uban. Dia sama sekali tidak bergerak. Kedua tangannya disilangkan ke depan. Wanita tua itu mengenakan pakaian kegemarannya: warna biru.
Seluruh kulitnya terlihat kusut. Ada warna putih kecoklat-coklatan. Kelihatannya dulu dia pernah mengalami kebakaran sehingga kulitnya menjadi begitu. Yang aneh, meski dikelilingi puluhan orang, wanita itu tetap tak bergeming. Mematung. Tidak menoleh atau berbicara.
Setelah didekati, alamak, ternyata dia adalah sesosok mayat. Ma’nene, begitu kata orang Toraja. Apa itu? Itu adalah mayat yang telah diawetkan. Bagi masyarakat Toraja, kematian adalah sesuatu yang disakralkan. Bagi mereka, kematian harus dihormati. Mereka yang mati biasanya diletakkan di dalam gua. Selama bertahun-tahun didiamkan di sana.
Nah, mayat tadi, adalah mayat seorang ibu sekaligus nenek yang telah meninggal selama bertahun-tahun. Tapi anehnya, mayat tersebut masih utuh. Apakah dia dibalsem? Tidak. Kisah tentang mayat utuh ini sudah ada sejak tahun 1905.
Mayat-mayat utuh tersebut pertama ditemukan di sebuah gua di Desa Sillanang. Saat ditemukan mayat tersebut tidak busuk, pun sampai sekarang. Uniknya, mayat untuh itu tidak dibalsem maupun diberi ramuan. Alami.
Menurut Tampubolon, (45), anak ketua adat setempat, kemungkinan ada semacam zat di gua itu yang khasiatnya bisa mengawetkan mayat manusia. “Kalau saja ada ahli geologi dan kimia yang mau membuang waktu menyelidiki tempat itu, sepertinya teka teki gua Sillanang dapat dipecahkan,” kata Tampubolon.
Awal Mula Tradisi Ma’nene
Mayat berjalan pulang sendiri ke rumah. Tapi sebelumnya harus dihonotis dulu.
Mayat berjalan pulang sendiri ke rumah. Tapi sebelumnya harus dihonotis dulu.
Kisah Ma`nene bermula dari seorang pemburu binatang bernama Pong Rumasek, ratusan tahun lampau. Ketika itu, dirinya berburu hingga masuk kawasan hutan pegunungan Balla.
Dikisahkan di tengah perburuan, Pong Rumasek, warga Toraja, menemukan jasad seseorang yang meninggal dunia. Jasad itu tergeletak di tengah jalan di dalam hutan lebat. Kondisinya mengenaskan.
Tubuhnya tinggal tulang belulang. Hati Pong Rumasek tergugah. Ia ingi merawatnya. Jasad itu dibungkus dengan baju yang dipakainya. Setelah dirasa aman, Pong Rumasek kemudian melanjutkan perburuannya.
Sejak kejadian itu, setiap kali Pong mengincar binatang buruan, dia selalu mudah mendapatkannya, termasuk buah-buahan di hutan. Kejadian aneh kembali terulang ketika Pong Rumasek pulang ke rumah. Tanaman pertanian yang ditinggalkan, tiba-tiba panen lebih cepat dari waktunya. Bahkan, hasilnya berlimpah.
Sejak itu, setiap kali berburu ke hutan, Pong selalu menemui arwah orang mati yang pernah dirawatnya. Bahkan, arwah tersebut sering diajak berburu menggiring binatang.
Pong Rumasek pun berkesimpulan bahwa jasad orang yang meninggal dunia harus tetap dimuliakan, meski itu hanya tinggal tulang belulangnya. Maka dari itu, setiap tahun sekali sehabis panen besar di bulan Agustus, setiap penduduk Baruppu selalu mengadakan Ma`nene, upacara pemakaman untuk menghormati leluhur, tak lain mendiang Pong Rumasek.
Bagi masyarakat Baruppu, ritual Ma`nene juga dimaknai sebagai perekat kekerabatan di antara mereka. Bahkan Ma`nene menjadi aturan adat yang tak tertulis yang selalu dipatuhi setiap warga.
Ketika salah satu pasangan suami istri meninggal dunia, maka pasangan yang ditinggal mati tak boleh kawin lagi sebelum mengadakan Ma`nene. Mereka menganggap sebelum melaksanakan ritual Ma`nene, status mereka masih dianggap pasangan suami istri yang sah.
Tapi, jika sudah melakukan Ma`nene, maka pasangan yang masih hidup dianggap sudah bujangan dan berhak untuk kawin lagi.
Ritual Ma`nene sendiri dilakukan setiap tahun sekali. Ini merupakan satu-satunya warisan leluhur yang masih dipertahankan secara rutin hingga kini. Kesetiaan mereka terhadap amanah leluhur melekat pada setiap warga desa.
Penduduk Desa Baruppu percaya jika ketentuan adat yang diwariskan dilanggar maka akan datang musibah yang melanda seisi desa. Misalnya, gagal panen atau salah satu keluarga akan menderita sakit berkepanjangan.
Dalam bahasa Bugis, Toraja diartikan sebagai orang yang berdiam di negeri atas atau pegunungan. Namun, masyarakat Toraja sendiri lebih menyukai dirinya disebut sebagai orang Maraya atau orang keturunan bangsawan yang bernama Sawerigading.
Berbeda dengan orang Toraja pada umumnya, masyarakat Baruppu lebih mengenal asal usulnya dari Ta`dung Langit atau yang datang dari awan.
Lama kelamaan Ta`dung Langit yang menyamar sebagai pemburu ini menetap di kawasan hutan Baruppu dan kawin dengan Dewi Kesuburan Bumi. Karena itu, sering terlihat ketika orang Toraja meninggal dunia, mayatnya selalu dikuburkan di liang batu.
Tradisi tersebut erat kaitannya dengan konsep hidup masyarakat Toraja bahwa leluhurnya yang suci berasal dari langit dan bumi. Maka, tak semestinya orang yang meninggal dunia, jasadnya dikuburkan dalam tanah. Bagi mereka hal itu akan merusak kesucian bumi yang berakibat pada kesuburan bumi.
Seperti yang dilakukan keluarga besar Tumonglo. Bagi keluarga Tumonglo, ritual Ma`nene adalah sakral dan wajib dilakukan. Sejak pagi, keluarga ini sudah disibukkan serangkaian kegiatan ritual yang diawali dengan memotong kerbau dan babi. Bagi keluarga Tumonglo maupun sebagian besar masyarakat Toraja lainnya pesta adalah bagian yang tak terpisahkan setiap kali menghormati orang yang akan menuju nirwana. Meski mereka sudah banyak yang menganut agama-agama samawi, adat dan tradisi yang diwariskan para leluhurnya ini tak mudah ditinggalkan.
Kini, tiba saatnya keluarga Tumonglo menjalani ritual inti dari Ma`nene. Di bawah kuburan tebing batu Tunuan keluarga ini berkumpul menunggu peti jenazah nenek Biu–leluhur keluarga Tumonglo yang meninggal dunia setahun lalu–diturunkan.
Tak jauh dari tebing, kaum lelaki saling bergandengan tangan membentuk lingkaran sambil melantunkan Ma`badong. Sebuah gerak dan lagu yang melambangkan ratapan kesedihan mengenang jasa mendiang yang telah wafat sekaligus memberi semangat pada keluarga almarhum.
Bersamaan dengan itu, peti jenazah pun mulai diturunkan dari lubang batu secara perlahan-lahan. Peti kusam itu berisi jasad nenek Biu. Keluarga Tumonglo mempercayai bahwa ada kehidupan kekal setelah kematian. Sejatinya kematian bukanlah akhir dari segala risalah kehidupan. Karena itu, menjadi kewajiban bagi setiap keluarga untuk mengenang dan merawat jasad leluhurnya meski sudah meninggal dunia beberapa tahun lalu.
Dalam ritual ini, jasad orang mati dikeluarkan kembali dari tempatnya. Kemudian, mayat tersebut dibungkus ulang dengan lembaran kain baru oleh masing-masing anak cucunya.
Di desa Bu`buk, suasananya tak jauh beda dengan desa lainnya di Kecamatan Baruppu. Di tempat ini keluarga besar Johanes Kiding juga akan melakukan Ma`nene terhadap leluhurnya Ne`kiding. Sebelum ke kuburan, masyarakat dan handai taulan berkumpul di pelataran desa di bawah deretan rumah tradisional khas Toraja, Tongkonan.
Namun, kuburan yang dituju bukan liang batu seperti umumnya, melainkan Patane, semacam kuburan batu atau rumah kecil yang digunakan untuk menyimpan jasad para leluhur mereka.
Acara dilanjutkan dengan membuka dua peti yang berisi jasad leluhur. Mayat yang sudah meninggal setahun yang lalu itu dibungkus ulang dengan kain baru. Perlakuan itu diyakini atas rasa hormat mereka pada leluhur semasa hidup. Mereka yakin arwah leluhur masih ada untuk memberi kebaikan.
Dalam setiap Ma`nene, jasad orang yang meninggal pantang diletakkan di dasar tanah. Karena itu, para sanak keluarga selalu menjaganya dengan memangku jasad leluhurnya. Tak ayal, tangis kepiluan kembali merebak. Mereka meratapi leluhurnya sambil menyebut-nyebut namanya. Jasad yang sudah dibungkus kain baru pun dimasukkan kembali ke dalam rumah patane. Kini, keluarga Johanes pun telah selesai melaksanakan amanah leluhur.
Menyuruh Mayat Berjalan
Mayat yang disimpan di kuburan batu.
Mayat yang disimpan di kuburan batu.
Mayat-mayat yang dimakamkan di kuburan tebing atau kuburan batu (patane)–setelah bertahun-tahun berlalu–kemudian diangkat dan dikeluarkan. Di situ para kerabat keluarga akan menangis. Tapi ada tradisi kuno yang dilakukan warga Toraja, selain    mengeluarkan mayat, mereka juga membangkitkan mayat. Lebih unik lagi, mayat tersebut bisa disuruh berjalan pulang ke rumah. Hii…ngeri.
Yah, inilah fakta yang terjadi di Tanah Toraja. Dan, mungkin hanya ada di tempat ini. Jika selama ini mayat berjalan hanya bisa ditonton di film-film yang tidak nyata, maka tradisi mayat berjalan di Tanah Toraja benar-benar ada di depan mata dan sangat nyata.
Cerita mengenai mayat berjalan banyak versinya. Versi yang pertama menyebutkan, dulu, ratusan tahun sebelumnya pernah terjadi perang saudara di Tanah Toraja. Perang itu melibatkan orang-orang Toraja Barat dan Toraja Timur.
Dalam peperangan tersebut, Toraja Barat kalah telak. Sebagian besar tewas. Tetapi pada saat akan pulang kampung, seluruh mayat Toraja Barat bangkit dari kematin. Dan, berjalan. Sedang orang Toraja Timur, walaupun hanya sedikit yang tewas, mereka tetap menggotong mayat saudara mereka yang mati. Perang itu dianggap seri.
Sementara versi kedua menurut Tampubolon, mayat berjalan kaku dan agak tersentak-sentak itu sebenarnya sudah mengakar dari kehidupan masa lalu. Dulu, orang-orang Toraja biasa menjelajah daerah-daerah yang bergunung-gunung. Di sana banyak ceruk. Dan kemana-mana mereka hanya dengan berjalan kaki.
“Dari zaman purba sampai sekarang tetap begitu. Mereka tidak mengenal pedati, delman, gerobak atau semacamnya. Dalam perjalanan itu, banyak dari mereka yang jatuh sakit dan mati,” cerita Tampubolon.
Nah, supaya mayat tidak sampai ditinggal di daerah yang tidak dikenal (orang Toraja sangat menghormati roh orang mati), maka dengan satu ilmu gaib (semacam hipnotis), mayat-mayat itu kemudian dapat berjalan pulang. Cara demikian dilakukan supaya mayat tidak menyusahkan manusia lain. Sebab akan sangat tidak mungkin menggotong terus-menerus jenazah sepanjang perjalanan yang makan waktu berhari-hari. Mayat berjalan itu baru berhenti bila ia sudah meletakkan badannya didalam rumahnya sendiri.
Kendati demikian masih ada satu pantangan, yakni mayat yang berjalan tidak boleh disentuh. “Kalau disentuh hopnotisnya akan hilang,” terang Tampubolon yang sudah sejak kecil melihat ayahnya menghipnotis mayat berjalan.
Pada keturunan selanjutnya, orang-orang Toraja sering menguburkan mayatnya dengan cara mayat tersebut berjalan sendiri ke liang kuburnya. Begitu pula saat mereka ingin pulang atau dikangeni keluarganya. Di rumah, memang telah disediakan satu tempat khusus untuk mayat-mayat tersebut. Bila mereka (mayat) pulang, mereka bisa menghuni rumah itu. Setiba di rumah mereka akan tidur lagi. Tapi jika mau kembali ke rumah sebelumnya, yakni patane, mereka akan berjalan lagi.
Fenomena mayat berjalan juga dituturkan, Ardiansyah (28), warga asli Tanah Toraja. Dia mengaku pernah pernah menyaksikan sendiri dengan mata telanjang, ada mayat berjalan sendiri.
“Kejadiannya sekitar tahun 1992. Waktu itu saya baru kelas 3 SD. Pada saat itu di desa saya ada seorang bernama Pongbarrak yang ibunya meninggal. Seperti adat orang Toraja, sang mayat tidak langsung dikuburkan tetapi masih harus melalui prosesi adat rambu solo atau penguburan,” jelas Ardiansyah.
Setelah mayat dimandikan, lanjut Ardiansyah, mayat itu kemudian diletakkan di tempat tidur dalam sebuah kamar khusus sebelum dimasukkan ke peti jenasah. Pada malam ketiga, seluruh keluarga berkumpul untuk membicarakan bagaimana prosesi pemakaman yang akan dilaksanakan nanti.
“Saat itu saya duduk di teras rumah, tiba-tiba ada kegaduhan dalam rumah. Semua ibu-ibu berteriak. Karena penasaran, saya berusaha melongok ke dalam rumah. Dan astaga, mayat ibu Pngbarrak berjalan keluar dari kamar,” kenang Ardiansyah.
Ardiansyah menceritakan, saat itu dia dan temannya kontan berteriak histeris. Saking takutnya mereka langsung berlari menuruni tangga.
“Saya berlari dan mendapatkan ayah saya sambil berteriak histeris. Setelah itu saya langsung dibawa pulang ke rumah dan saya tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya,” cerita Ardiansyah yang mengaku baru pertama kali melihat mayat berjalan.
Keesokan harinya, kejadian tersebut membuat seluruh warga heboh. Dan informasi yang diperoleh Ardiansyah, Pongbarrak sengaja melakukan ritual tersebut karena dia ingin menghormati ibunya. Cuma pada malam itu, dia tidak ingin memindahkan ibuny. Pongbarrak cuma berusaha mempraktekkan ilmunya. Sebab konon, jika sang ibu sudah berada di kuburan batu, sewaktu-waktu dia akan menarik ibunya kembali untuk diajak pulang. Tentunya dengan cara berjalan sendiri.
Pada zaman sekarang, diakui Ardiansyah, memang hal itu nyaris tidak pernah terjadi, kecuali orang-orang Toraja yang berada di pedalaman. “Generasi muda seperti saya, malah tidak tahu soal itu. Yang kami tahu, kalau orang mati itu akan diletakkan di kuburan batu. Mereka bisa awet hingga bertahun-tahun,” jelas Ardiansyah yang mengaku pernah memakamkan keluarganya di kuburan batu.
Cuma, yang dibingungi Ardiansyah, adalah mayat berjalan. Menurutnya tradisi itu bukan sembarangan dilakukan oleh orang Tanah Toraja. Mereka yang bisa melakukan itu sebelumnya memiliki ilmu tertentu yang diturunkan dari guru-gurunya atau sesepuh adat.
“Itu ilmu kuno. Di jaman sekarang tak banyak orang bisa melakukan itu,” kata Ardiansyah.
Ardiansyah menambahkan, dia dulunya juga pernah diajari kakeknya. Tapi karena membangkitkan mayat dirasa ngeri, maka dia urung mempelajari ilmu tersebut.
Biasanya, orang yang memiliki ilmu membangkitkan orang mati, mereka awalnya mempraktekkan pada binatang seperti ayam atau kerbau yang diadu dalam keadaan leher terputus.
“Binatang seperti kerbau yang sudah dipotong kepalanya dan dikuliti habis pun, jika diberi mantera-mantera atau ilmu gaib Tanah Toraja, mereka masih bisa dibuat berdiri dan berlari kencang, mengamuk ke sana sini,” kutip Ardiansyah yang mengaku bangga dengan adat leluhurnya.
Meski begitu, tradisi Tanah Toraja menjalankan mayat dari rante (tempat persemayaman) ke patane, diakui Ardiansyah, hanya bisa dilakukan oleh masyarakat Toraja. Mayat-mayat tersebut dapat berjalan karena doa-doa yang dipanjatkan ke leluhur dan arwah almarhum.
Sayang, ritual ini perlahan mulai ditinggalkan. Sebab masyarakat Toraja telah banyak yang memeluk agama samawi. “Ritual Ma’nene sebenarnya tidak hilang, cuma jarang dipakai saja. Tapi bila mau masuk ke pelosok desa, ritual mayat berjalan masih tetap dijalankan. Sebab warga Toraja masih percaya dengan hal-hal mistik. Dan karena mereka ingin menjaga kekhasan budaya leluhur agar tidak hilang.nov

Senin, 03 Juni 2013

Adat Ma’nene, Tradisi Unik dari Tana Toraja

Keberagaman suku dan adat istiadat, membuat Indonesia kaya akan tradisi yang unik. Beberapa tradisi bahkan masih menyimpan cerita misteri yang kadang di luar akal sehat kita. Salah satunya datang dari Tana Toraja, yaitu mayat yang bisa berjalan sendiri. 

Konon, tradisi ini berawal dari kebiasaan leluhur-leluhur mereka yang suka menyusuri bukit-bukit dan gunung tanpa alat transportasi apapun. Di tengah perjalanan, para leluhur ini kadang nggak kuat berjalan, mengalami sakit atau meninggal dunia karena kelelahan. Biasanya, kerabat yang tahu berita ini nggak langsung membawa atau menggendong mayat ini. Mereka malah menggunakan kekuatan gaib untuk membangunkan mayat tersebut. Tujuannya, agar mayat tersebut berjalan sendiri menuju tempat peristirahatan terakhirnya yaitu rumahnya sendiri.

Menurut kepercayaan penduduk Toraja zaman dahulu, kita nggak boleh menyapa, memanggil, menyentuh, atau bahkan memegang mayat berjalan tersebut. Karena, mantra gaib dalam tubuh mayat tersebut akan hilang dan mayat akan kehilangan kekuatannya. Ada juga versi lain yang mengatakan bahwa orang yang memanggil atau menyentuh mayat tersebut akan menemui ajalnya dan meninggal dunia.

Sampai sekarang tradisi ini masih ada dan bertahan, namun ritualnya berbeda. Setiap tiga tahun sekali kuburan leluhur mereka sengaja digali dan dikeluarkan dari peti, untuk didandani dan diarak keliling kampung. Uniknya, jasad mayat ini masih tetap utuh walaupun tidak diberi balsam atau jenis pengawet lainnya. Menurut kepercayaan setempat, arwah para leluhur masih tersimpan dalam tubuh mayat tersebut. Mereka masih ‘’hidup” dan mengawasi keturunannya dari ‘tempat’ yang lain.

Dalam ritual tersebut, mayat yang telah dikeluarkan dari peti akan diberi bedak dan dipakaikan gaun layaknya pergi ke sebuah pesta meriah. Selanjutnya, mayat ini diarak keliling kampung oleh beberapa anggota keluarganya. Kabarnya, mayat tersebut masih bisa berdiri tegak di atas kakinya sendiri, seakan ada kekuatan gaib yang menopangnya. Hiii... Dewianataria – Foto: Fotosearch
http://www.gadis.co.id/gaul/ngobrol/adat.manene.tradisi.unik.dari.tana.toraja/001/007/

Senin, 21 Desember 2009

Tradisi Tumbilotohe

A. Selayang Pandang

Tumbilotohe dalam bahasa Gorontalo terdiri dua suku kata, yaitu tumbilo berarti pasang, dan tohe berarti lampu. Jadi, Tumbilotohe berarti acara pasang lampu. Menurut sejarah, Tumbilotohe merupakan tradisi masyarakat Gorontalo masa lampau yang sudah berlangsung sejak abad ke-15 M. Tradisi ini dilaksanakan pada 3 malam terakhir menjelang hari Raya Idul Fitri, yaitu pada tanggal 27 hingga 30 Ramadhan, mulai magrib hingga pagi hari.

Di masa lampau, pelaksanaan Tumbilotohe dimaksudkan untuk memudahkan umat Islam dalam memberikan zakat fitrah pada malam hari. Pada masa itu, lampu penerangan masih terbuat dari damar dan getah pohon yang mampu menyala dalam waktu lama. Oleh karena semakin berkurangnya damar, maka bahan lampu penerangan diganti dengan minyak kelapa (padalama) dan kemudian diganti dengan minyak tanah.

Seiring dengan perkembangan zaman, banyak warga Gorontalo mengganti lampu penerangannya dengan lampu kelap-kelip dalam berbagai warna. Namun, sebagian warga masih tetap menggunakan lampu minyak tanah sebagai penerangan. Lampu-lampu minyak tersebut digantung pada sebuah kerangka kayu yang dihiasi dengan janur kuning. Di atas kerangka itu juga digantung buah pisang sebagai lambang kesejahteraan, dan tebu sebagai lambang kemanisan, keramahan, serta kemuliaan menyambut hari raya Idul Fitri. Tradisi ini menjadi daya tarik tersendiri bagi warga pendatang, terutama warga kota tetangga, seperti Manado, Palu, dan Makassar. Mereka sengaja berkunjung ke Gorontalo untuk menyaksikan tradisi Tumbilotohe.
B. Keistimewaan

Pada saat ritual Tumbilotohe dilaksanakan, Kota Gorontalo berubah menjadi semarak, karena lampu-lampu penerangan dari berbagai jenis dan bentuk tidak hanya menerangi halaman rumah warga, tetapi juga menerangi halaman kantor, masjid, dan lapangan sepak bola. Bahkan, petakan sawah dan lahan-lahan kosong yang luas pun dipenuhi dengan lampu botol dalam berbagai bentuk, seperti gambar masjid, kitab suci Alquran, dan tulisan kaligrafi yang sangat indah dan mempesona. Selain itu, hampir semua alikusu atau kerangka pintu gerbang, baik rumah, masjid, kantor, maupun perbatasan suatu daerah, juga dihiasi dengan janur, pohon pisang, tebu, dan lampu-lampu minyak.

Ritual yang diselenggarakan selama tiga malam tersebut menjadi semakin ramai dan semarak dengan adanya atraksi bunggo (meriam bambu) yang dimainkan oleh anak-anak muda Kota Gorontalo. Para pemain bunggo tersebut saling balas dan saling adu kerasnya bunyi. Menjelang sahur, mereka mengarahkan bunggo tersebut ke kampung-kampung untuk membangunkan warga yang masih terlelap tidur agar bangun untuk makan sahur. Dengan suasana demikian, para pengunjung dapat merasakan nuansa religiusitas dan solidaritas bersama masyarakat setempat.
C. Lokasi

Tradisi Tumbilotohe terdapat di Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo, Indonesia.
D. Akses

Untuk mencapai Kota Gorontalo, perjalanan dapat ditempuh melalui tiga jalur, yaitu: jalur darat, laut, dan udara. Jika pengunjung berada di Pulau Sulawesi, perjalanan dapat ditempuh dengan menggunakan bis antar provinsi. Tapi jika pengunjung berada di luar Pulau Sulawesi, perjalanan dapat ditempuh melalui jalur laut dan jalur udara. Di Provinsi Gorontalo terdapat 2 pelabuhan, yakni Pelabuhan Gorontalo dan Pelabuhan Anggrek Kwandang di Kabupaten Gorontalo, dan sebuah bandar udara di Kecamatan Tibawa, Kabupaten Gorontalo. Bandara ini terletak kira-kira 35 km dari Kota Gorontalo.
E. Harga Tiket Masuk

Pengunjung tidak dikenai biaya tiket masuk.
F. Akomodasi dan Fasilitas

Di Kota Gorontalo tersedia banyak fasilitas pendukung, seperti: hotel, restoran, tempat ibadah, jasa sewa kendaraan, pusat oleh-oleh, ATM dan sarana komunikasi.
Upacara Posuo

A. Selayang Pandang

Tradisi Upacara Posuo yang berkembang di Sulawesi Tenggara (Buton) sudah berlangsung sejak zaman Kesultanan Buton. Upacara Posuo diadakan sebagai sarana untuk peralihan status seorang gadis dari remaja (labuabua) menjadi dewasa (kalambe), serta untuk mempersiapkan mentalnya.

Upacara tersebut dilaksanakan selama delapan hari delapan malam dalam ruangan khusus yang oleh mayarakat setempat disebut dengan suo. Selama dikurung di suo, para peserta dijauhkan dari pengaruh dunia luar, baik dari keluarga maupun lingkungan sekitarnya. Para peserta hanya boleh berhubungan dengan bhisa (pemimpin Upacara Posuo) yang telah ditunjuk oleh pemangku adat setempat. Para bhisa akan membimbing dan memberi petuah berupa pesan moral, spiritual, dan pengetahun membina keluarga yang baik kepada para peserta.

Dalam perkembangan masyarakat Buton, ada 3 jenis Posuo yang mereka kenal dan sampai saat ini upacara tersebut masih berkembang. Pertama, Posuo Wolio, merupakan tradisi Posuo awal yang berkembang dalam masyarakat Buton. Kedua, Posuo Johoro yang berasal dari Johor-Melayu (Malaysia) dan ketiga, Posuo Arabu yang berkembang setelah Islam masuk ke Buton. Posuo Arabu merupakan hasil modifikasi nilai-nilai Posuo Wolio dengan nilai-nilai ajaran agama Islam. Posuo ini diadaptasi oleh Syekh Haji Abdul Ghaniyyu, seorang ulama besar Buton yang hidup pada pertengahan abad XIX yang menjabat sebagai Kenipulu di Kesultanan Buton di bawah kepemimpinan Sultan Buton XXIX Muhammad Aydrus Qaimuddin. Tradisi Posuo Arabu inilah yang masih sering dilaksanakan oleh masyarakat Buton.
B. Keistimewaan

Keistimewaan Upacara Posuo terletak pada prosesinya. Ada tiga tahap yang mesti dilalui oleh para peserta agar mendapat status sebagai gadis dewasa. Pertama, sesi pauncura atau pengukuhan peserta sebagai calon peserta Posuo. Pada tahap ini prosesi dilakukan oleh bhisa senior (parika). Acara tersebut dimulai dengan tunuana dupa (membakar kemenyan) kemudian dilanjutkan dengan pembacaan doa. Setelah pembacaan doa selesai, parika melakukan panimpa (pemberkatan) kepada para peserta dengan memberikan sapuan asap kemenyan ke tubuh calon. Setelah itu, parika menyampaikan dua pesan, yaitu menjelaskan tujuan dari diadakannya upacara Posuo diiringi dengan pembacaan nama-nama para peserta upacara dan memberitahu kepada seluruh peserta dan juga keluarga bahwa selama upacara dilangsungkan, para peserta diisolasi dari dunia luar dan hanya boleh berhubungan dengan bhisa yang bertugas menemani para peserta yang sudah ditunjuk oleh pemangku adat.

Kedua, sesi bhaliana yimpo. Kegiatan ini dilaksanakan setelah upacara berjalan selama lima hari. Pada tahap ini para peserta diubah posisinya. Jika sebelummnya arah kepala menghadap ke selatan dan kaki ke arah utara, pada tahap ini kepala peserta dihadapkan ke arah barat dan kaki ke arah timur. Sesi ini berlangsung sampai hari ke tujuh.

Ketiga, sesi mata kariya. Tahap ini biasanya dilakukan tepat pada malam ke delapan dengan memandikan seluruh peserta yang ikut dalam Upacara Posuo menggunakan wadah bhosu (berupa buyung yang terbuat dari tanah liat). Khusus para peserta yang siap menikah, airnya dicampur dengan bunga cempaka dan bunga kamboja. Setelah selesai mandi, seluruh peserta didandani dengan busana ajo kalembe (khusus pakaian gadis dewasa). Biasanya peresmian tersebut dipimpin oleh istri moji (pejabat Masjid Keraton Buton).

Semua Upacara Posuo dimaksudkan untuk menguji kesucian (keperawanan) seorang gadis. Biasanya hal ini dapat dilihat dari ada atau tidaknya gendang yang pecah saat ditabuh oleh para bhisa. Jika ada gendang yang pecah, menunjukkan ada di antara peserta Posuo yang sudah tidak perawan dan jika tidak ada gendang yang pecah berarti para peserta diyakini masih perawan.
C. Lokasi

Upacara Posuo diadakan di Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara, Indonesia.
D. Akses

Untuk mencapai lokasi, perjalanan dimulai dari Kota Kendari ke Bau-Bau dengan menggunakan pesawat perintis atau kapal laut. Jika menggunakan pesawat perintis, perjalanan ditempuh sekitar 1 jam dan jika menggunakan kapal laut, waktu tempuh sekitar 4 jam.
E. Harga Tiket

Pengunjung yang datang tidak dipungut biaya.
F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya.

Di kota tempat diadakan Upacara Posuo, banyak tersedia hotel yang nyaman untuk menginap mulai dari hotel berbintang sampai hotel kelas melati. Begitu juga dengan tempat makanan dan minuman, karena di sepanjang jalan di kota ini banyak berjejeran rumah makan dan restoran yang menyajikan berbagai menu, sehingga para wisatawan dapat memilih tempat yang sesuai dengan selera guna bersantap ria.

Pesta Adat Sayyang Pattudu

A. Selayang Pandang

Sayyang Pattudu (kuda menari), begitulah masyarakat suku Mandar, Sulawesi Barat menyebut acara yang diadakan dalam rangka untuk mensyukuri anak-anak yang khatam (tamat) Al-Qur‘an. Bagi warga suku Mandar, tamatnya anak-anak mereka membaca 30 juz Al-Quran merupakan sesuatu yang sangat istimewa, sehingga perlu disyukuri secara khusus dengan mengadakan pesta adat Sayyang Pattudu. Pesta ini biasanya digelar sekali dalam setahun, bertepatan dengan bulan Maulid/Rabi‘ul Awwal (kalender Hijriyah). Pesta tersebut menampilkan atraksi kuda berhias yang menari sembari ditunggangi anak-anak yang mengikuti acara tersebut.

Bagi masyarakat Mandar, khatam Al-Qur‘an dan acara adat Sayyang Pattudu memiliki pertalian erat antara satu dengan lainnya. Acara ini tetap mereka lestarikan dengan baik, bahkan masyarakat suku Mandar yang berdiam di luar Sulawesi Barat dengan sukarela akan kembali ke kampung halamannya demi mengikuti acara tersebut. Penyelenggaran pesta adat ini sudah berlangsung cukup lama, tetapi tidak ada yang tahu pasti kapan pertama kali dilaksanakan. Jejak sejarah yang menunjukkan awal pelaksanaan kegiatan sampai sekarang juga belum terdeteksi oleh para sejarawan dan tokoh masyarakat.
B. Keistimewaan

Puncak acara khatam Al-Qur‘an dengan menggelar pesta adat Sayyang Pattudu memiliki daya tarik tersendiri. Acara ini diramaikan dengan arak-arakan kuda mengelilingi desa yang dikendarai oleh anak-anak yang telah menyelesaikan khatam Al Quran. Setiap anak mengendarai kuda yang sudah dihias sedemikian rupa. Kuda-kuda tersebut juga sudah terlatih untuk mengikuti irama pesta dan mampu berjalan sembari menari mengikuti iringan musik, tabuhan rebana, dan untaian pantun khas Mandar yang mengiringi arak-arakan tersebut.

Ketika duduk di atas kuda, para peserta yang ikut Sayyang Pattudu akan mengikuti tata atur baku yang berlaku secara turun temurun. Dalam Sayyang Pattudu, para peserta duduk dengan satu kaki ditekuk ke belakang, lutut menghadap ke depan, sementara satu kaki yang lainnya terlipat dengan lutut dihadapkan ke atas dan telapak kaki berpijak pada punggung kuda. Dengan posisi seperti itu, para peserta didampingi agar keseimbangannya terpelihara ketika kuda yang ditunggangi menari. Peserta Sayyang Pattudu akan mengikuti irama liukan kuda yang menari dengan mengangkat setengah badannya ke atas sembari menggoyang-goyangkan kaki dan menggeleng-gelengkan kepala agar tercipta gerakan yang harmonis dan menawan.

Ketika acara sedang berjalan meriah, tuan rumah dan kaum perempuan sibuk menyiapkan aneka hidangan dan kue-kue untuk dibagikan kepada para tamu. Ruang tamu dipenuhi dengan aneka hidangan yang tersaji di atas baki yang siap memanjakan selera para tamu yang datang pada acara tersebut.

Rangkaian acara tahunan ini, biasanya diikuti lebih dari 50 peserta tiap tahunnya. Biasanya, para peserta terhimpun dari berbagai kampung yang ada di desa tersebut. Diantara para peserta ada yang datang khusus dari desa sebelah, bahkan ada juga yang datang dari luar kabupaten, maupun luar Provinsi Sulawesi Barat.
C. Lokasi

Pesta adat Sayyang Pattudu biasanya diadakan di Desa Karama, Kecamatan Tinambung, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, Indonesia.
D. Akses

Untuk mencapai lokasi, para wisatawan dapat menggunakan angkutan umum atau kendaraan pribadi. Untuk menuju lokasi, perjalanan dapat dimulai dari Bandara Tampa Padang yang terletak di Kota Mamuju. Dari bandara tersebut perjalanan kemudian dilanjutkan ke Kota Polewali Ibu Kota Kabupaten Poleweli Mandar, Sulawesi Barat dengan waktu tempuh 1 jam 30 menit. Setelah sampai di Kota Poleweli, kemudian perjalanan dilanjutkan ke lokasi yang berjarak sekitar 52 km dengan waktu tempuh sekitar 45 menit.
E. Harga Tiket

Tidak di pungut biaya.
F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya

Di Desa Karama, tempat pesta adat ini dilaksanakan, belum ada hotel untuk menginap bagi para wisatawan yang datang dari luar daerah. Tapi tidak usah gundah, sebab masyarakat setempat membuka pintu rumah mereka bagi tamu yang datang ke daerah tersebut untuk menyaksikan pesta adat Sayyang Pattudu. Begitu juga untuk makanan, para wisatawan akan mendapatkan suguhan yang memuaskan dengan beraneka makanan yang disediakan oleh tuan rumah untuk menyambut tamu.

(Noor Fadlli/wm/54/07-08)
__________

Sumber Foto: www.panyingkul.com
Dibaca 3.133 kali
^^ Kembali ke atas
Rating :
Jika Anda pernah mengujungi objek wisata ini, berikan rating dan
komentar untuk menjadi perhatian Dinas Pariwisata atau pengelola
obyek wisata setempat.
Komentar - komentar
amin 22/01/09 03:57
makassar

Kuda Pattudu sayyyang ini telah menjuarai festival budaya nusantara pada Tahun 2008. Salut buat kepala dinas kebudayaan provinsi sulawesi barat. Semoga bapak Gubernur memperhatikan Kebudayaan yang ada di Sulawesi Barat.
dema 07/04/09 02:53
jl.stonen utara I no 11,semarang

aku dah liat sendiri. seru bgt lho. katanya kudanya ini sampe pernah dipanggil ke istana negara lho.
maswad 26/04/09 12:17
Pamboang, majene

harus dilestarikan, tp jangan hanya pemerintah sulbar yang melestarikan donk masyarakat pun harus membantu melestarikan karena sayyang pattu’du merupakan aset budaya yang hanya ada di mandar (Sulbar).
vita 06/07/09 08:36
jakarta timur

saya adalah salah satu siswa dari sulawesi barat yang sedang bersekolah di sekolah tinggi ilmu statistik... saat ini saya dan teman2 dari seluruh sulawesi sedang kebingungan mencari sebuah penampilan yang akan dipersembahkan pada acara ulang tahun kampus, di mana dalam acara itu seluruh kebudayaan dari masing2 daerah asal mahasiswa akan ditampilkan. kebetulan tahun lalu sulbar menang dalam acara pameran kebudayaan senasional. tapi sayangnya kami tdk bisa mempraktekkannya karena keterbatasan dalam informasi padahal kebudayaan ini sangat menarik.
ehmmm bisa ga’ yah kira2 ada video tentang acara ini??? tks.
ocha 15/10/09 08:42
jln. toddopuli raya timur

mau cari tau tentang upacara sayyang pattudu...
Komentar Anda tentang obyek wisata di atas :
Nama : *
Alamat : *
Email : *
URL / Website :
Misal : http://www.wisatamelayu.com/
Komentar - komentar : *
Komentar anda akan dimoderasi oleh administrator terlebih dahulu.
your browser doesn't support image
Masukkan text diatas
*

* = Harus diisi
^^ Kembali ke atas

Fasilitas

* Hotel
* Bank
* ATM dan Penukaran Uang
* Pusat Informasi Wisata
* Restoran dan Cafe
* Biro Perjalanan
* Souvenir / Cindera Hati
* Imigrasi
* Konsulat
* Terminal Bus
* Stasiun Kereta Api
* Pelabuhan Laut / Dermaga
* Pelabuhan Udara / Bandara
* Maskapai Penerbangan
* Kantor Pos
* Telekomunikasi
* Rumah Sakit
* Fotografi & Studio
* Catering
* Fasilitas Lainnya

Agenda

* 19 Desember 2009 - 22 Desember 2009
Bangka Belitung Day
* 22 Desember 2009 - 22 Desember 2009
Konser Musik, Tari, dan Teater `Semalam di Bangka Belitung`
* 22 Desember 2009 - 22 Desember 2009
Teater Etalase Boneka-Boneka Kaca
* 24 Desember 2009 - 30 Desember 2009
Bazar Akhir Tahun Ocarina
* 29 Desember 2009 - 31 Desember 2009
Festival Sumpit Tradisional 2009

Agenda lain ... »
Ads

Beranda | Peta Wisata Melayu | Forum | Donasi | Komentar Tamu | Tentang Kami | Hubungi Kami | Bantuan | Info Iklan | Peta Situs

Ritual Robo-robo

A. Selayang Pandang

Bagi sebagian masyarakat di beberapa daerah di Indonesia, bulan Safar diyakini sebagai bulan naas dan sial. Sang Pencipta dipercayai menurunkan berbagai malapetaka pada bulan Safar. Oleh sebab itu, masyarakat yang meyakininya akan menggelar ritual khusus agar terhindar dari “kemurkaan” bulan Safar. Ritual tersebut juga dimaksudkan sebagai penghormatan terhadap arwah leluhur.

Namun pandangan di atas berbeda dengan pandangan masyarakat Kota Mempawah yang menganggap bulan Safar sebagai “bulan keberkahan” dan kedatangannya senantiasa dinanti-nantikan. Karena pada bulan Safar terjadi peristiwa penting yang sangat besar artinya bagi masyarakat Kota Mempawah hingga saat ini. Peristiwa penting tersebut kemudian diperingati dengan menggelar Ritual Robo-robo.

Dinamakan Robo-robo karena ritual ini digelar setiap hari Rabu terakhir bulan Safar menurut penanggalan Hijriah. Tujuan digelarnya ritual ini adalah untuk memperingati kedatangan dan/atau napak tilas perjalanan Opu Daeng Menambon yang bergelar Pangeran Mas Surya Negara dari Kerajaan Matan, Martapura, Kabupaten Ketapang, ke Kerajaan Mempawah, Kabupaten Pontianak, pada tahun 1737 M/1448 H.

Opu Daeng Menambon adalah putra ketiga Opu Daeng Rilekke yang terkenal sebagai pelaut handal dan gemar sekali melakukan perjalanan ke berbagai daerah di Nusantara bersama dengan anak-anaknya. Opu Daeng Rilekke sendiri adalah putra ketiga Sultan La Madusalat dari Kesultanan Luwuk, Bone, Sulawesi Selatan, yang telah menjadi Kesultanan Islam sejak tahun 1398 M. Opu Daeng Menambon beserta keluarganya pindah dari Kerajaan Matan ke Kerajaan Mempawah atas permintaan Panembahan Senggauk, Raja Mempawah waktu itu. Setelah Panembahan Senggauk mangkat, Opu Daeng Menambon naik tahta. Beliau berkuasa di sana sekitar 26 tahun, yakni dari tahun 1740 M sampai beliau wafat pada tahun 1766 M.
B. Keistimewaan

Sebagai sebuah peristiwa budaya, Ritual Robo-robo sarat dengan simbol-simbol yang mengandung nilai-nilai historis dan kultural. Ritual Robo-robo merupakan napak tilas kedatangan Opu Daeng Menambon beserta pengikutnya dari Kerajaan Matan ke Kerajaan Mempawah yang konon menggunakan 40 Perahu Bidar. Kedatangan Opu Daeng Menambon beserta pengikutnya ini menjadi cikal-bakal masuk dan berkembangnya agama Islam ke Kota Mempawah. Perlahan-lahan, proses islamisasi pun terjadi dan puncaknya adalah beralihnya Kerajaan Mempawah yang semula beragama Hindu menjadi kerajaan bercorak Islam.

Pengumandangan azan dan pembacaan doa yang dilakukan oleh Pemangku Adat Istana Amantubillah sebelum dimulainya Ritual Buang-buang menandakan bahwa dalam prosesi Ritual Robo-robo juga terdapat nilai-nilai religius. Sesajennya yang terdiri dari beras kuning, bertih, dan setanggi pun sarat dengan makna-makna tertentu. Nasi kuning dan bertih melambangkan kemakmuran dan kesejahteraan, sedangkan setanggi mengandung makna keberkahan. Dalam Ritual Buang-buang tidak semata-mata penghormatan dan pengakuan terhadap keberadaan sungai dan laut sebagai salah satu sumber penghidupan masyarakat, tapi juga tersirat keinginan untuk hidup selaras dengan alam sekitar.

Ritual ini biasanya dimulai selepas shalat Zuhur, di mana raja Istana Amantubillah beserta para petinggi istana bertolak dari Desa Benteng menggunakan Perahu Lancang Kuning dan Perahu Bidar. Perahu Lancang Kuning khusus digunakan oleh raja, sedangkan Perahu Bidar diperuntukan bagi petinggi istana. Mereka akan berlayar selama satu jam menuju muara Kuala/Sungai Mempawah yang terletak di Desa Kuala Mempawah, Kabupaten Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat. Sesampainya di muara Sungai Mempawah, seorang kerabat istana yang menjabat Pemangku Adat mengumandangkan azan dan membaca doa talak bala (talak balak). Kemudian dilanjutkan dengan Ritual Buang-buang, yaitu melempar sesajen ke Sungai Mempawah. Setelah itu, raja beserta para petinggi istana merapat ke tepi Sungai Mempawah untuk bersiap-siap melaksanakan Makan Saprahan di halaman depan Istana Amantubillah. Gambaran di atas merupakan sebagian dari rangkaian prosesi Ritual Robo-robo.

Kebersamaan dan silaturahmi antarberbagai elemen masyarakat adalah nilai-nilai lain yang terkandung dalam prosesi Ritual Robo-robo. Hal ini, misalnya, terlihat pada kegiatan Makan Saprahan. Makan Saprahan adalah makan bersama-sama di halaman depan Istana Amantubillah menggunakan baki atau talam. Setiap baki/talam (saprah) yang berisi nasi dan lauk biasanya diperuntukan bagi empat atau lima orang. Dalam Makan Saprahan keakraban terjalin, suasana mencair, dan sekat-sekat melebur jadi satu. Pada saat makan, tidak lagi dipersoalkan status, agama, dan asal-usul seseorang.

Hal lain yang tak kalah menariknya dalam Ritual Robo-robo adalah dihidangkannya berbagai masakan khas istana dan daerah setempat yang mungkin tidak lagi populer di tengah-tengah masyarakat, seperti lauk opor ayam putih, sambal serai udang, selada timun, ikan masak asam pedas, dan sop ayam putih. Sebagai penganan pencuci mulut disuguhkan kue sangon, kue jorong, bingke ubi, putuh buloh, dan pisang raja. Sementara untuk minumnya, disediakan air serbat yang berkhasiat memulihkan stamina.

Untuk memeriahkan Ritual Robo-robo, biasanya ditampilkan aneka hiburan tradisional masyarakat setempat, seperti tundang (pantun berdendang), japin, dan lomba perahu bidar.
C. Lokasi

Lokasi prosesi Ritual Robo-robo tersebar di beberapa tempat di Kota Mempawah, seperti di muara Sungai Mempawah di Desa Kuala Mempawah, Istana Amantubillah dan Kompleks Pemakaman Sultan-sultan Mempawah di Kelurahan Pulau Pedalaman, serta Makam Opu Daeng Menambon di Sebukit Rama, Kabupaten Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat, Indonesia.
D. Akses

Kota Mempawah berjarak sekitar 67 kilometer di sebelah utara Kota Pontianak, ibukota Provinsi Kalimantan Barat. Dari Bandara Supadio atau Terminal Bus Pontianak, turis dapat naik taksi, travel, dan bus sampai Kota Mempawah, ibukota Kabupaten Pontianak. Dari Kota Mempawah, Muara Sungai Mempawah berjarak sekitar 10 kilometer. Turis dapat mengaksesnya dengan menggunakan bus atau minibus.
E. Harga Tiket

Pelancong yang ingin menyaksikan Ritual Robo-robo tidak dipungut biaya.
F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya

Bagi wisatawan dari luar kota dan ingin menyaksikan prosesi Ritual Robo-robo secara keseluruhan, dapat menginap di hotel dan wisma yang banyak terdapat di sekitar lokasi Ritual Robo-robo.

Di kawasan tersebut juga terdapat toko, rumah makan, dan warung yang menyediakan berbagai kebutuhan wisatawan, seperti makanan, minuman, dan isi ulang pulsa.

Berbagai fasilitas lainnya, seperti masjid, kios wartel, bank, dan ATM, juga tersedia di sini.

Rabu, 11 November 2009

Petambuli, Membuat Adat Tak Mati Suri

ADA berbagai cara melestarikan tradisi dan adat istiadat kita yang begitu kaya. Salah satunya melalui upacara penikahan. Itulah yang dilakukan keturunan Kerajaan Sigi, di Sulawesi Tengah. Mereka memboyong tanda-tanda kebesaran kerajaan yang pernah jaya itu ke Tolitoli, Sulawesi Tengah, saat pernikahan salah seorang putra keturunan pewaris Kerajaan yang berdiri pada 1650 itu. Ritual penikahan ini adalah perkawinan budaya asli Sigi dengan syariat Islam. Ada adat petambuli sebagai intinya.

Upacara pernikahan a la keturunan Raja Sigi ini tergolong unik. Selain harus menyiapkan sejumlah tanda-tanda kebesaran raja seperti ula-ula, orang-orangan dari kain yang sudah berumur lebih dari 100 tahun. Sang calon mempelai pria juga harus mengenakan pakaian kebesaran raja dan mengunakan siga, penutup kepala khas Kaili, suku terbesar di Sulawesi Tengah. Calon mempelai pria juga diwajibkan menunganggi seekor kuda menuju kediaman calon mempelai wanita. Maklum, Edy Supratman, demikian nama sang calon mempelai pria adalah keturunan pewaris kerajaan Sigi.

Sejumlah tetua adat dan keluarga dekat calon mempelai pria juga mengunakan pakaian berwarna kuning yang merupakan pakaian kebesaran kerajaan Sigi.

Sang calon mempelai pria sepanjang jalan dikawal oleh dua orang Tadulako, pengawal raja dan seorang panglima agar dalam perjalanan menuju rumah mempelai wanita tidak mendapat hambatan dari musuh.

Para Tadulako bertopi tanduk kerbau itu, dipersenjatai dengan guma atau golok perang, tavala atau tombak dengan kaliavo atau tameng. Sepanjang jalan tepukan rebana mengiringi rombongan dari calon mempelai pria. Terasa besar pengaruh Islam atas kerajaan Sigi tempo dulu.

Sepanjang jalan para Tadulako memperlihatkan keahliannya memainkan guma dan tavala. Itu agar tidak ada yang berani menggangu perjalanan sang mempelai pria.

Nah, setibanya di rumah calon mempelai wanita rombongan pasukan dari calon mempelai pria disambut dengan dua orang prajurit utusan dari calon mempelai wanita.

Disini utusan prajurit dari mempelai wanita sempat melancarkan serangan dengan golok dan ditangkis oleh sang panglima dengan tombak sebelum memasuki halaman rumah calon mempelai wanita.

Sebelum, memasuki pintu rumah calon mempelai wanita digelarlah adat petambuli, upacara penghormatan bagi calon mempelai wanita dan keluarganya. Inilah inti prosesi adat itu. Petambuli dimpimpin dua orang tetua adat dengan mengunakan bahasa Kaili, bahasa ibu suku terbesar di Sulawesi Tengah. Selanjutnya, sang calon mempelai pria Edi Supratman dan calon mempelai wanita Sitti Maryam dinikahkan sesuai dengan syariat Islam.

Menurut salah seorang tokoh adat, Lassa ritual adat semacam ini dulunya selalu digelar oleh para bangsawan kerajaan Sigi. Kemudian pupus dan tidak lagi pernah digelar karena orang yang ingin semuanya serba praktis dan langsung jadi.

Dipercaya juga pelaksanaan adat pernikahan ini bertujuan memohon bagi sang pencipta alam semesta agar kedua mempelai diberikan keturunan yang baik serta rezeki yang melimpah.

“Jadi penghormatannya dimulai dari teras rumah pria, di jalan dan hingga ke teras rumah wanita. Filosofinya adalah manusia hidup itu harus saling menghormati. Dan semuanya harus berawal dari rumah tangga hinga ke kehidupan mereka sehari-hari, saat bergaul dengan orang lain di lingkungannya.

Diharapkan pelaksanaan ritual ini bisa melestarikan adat istiadat yang dulunya masyhur dan melembaga di Sulawesi Tengah berbilang ribuan tahun lamanya sejak abad 17. Meminjam harapan Lassa, agar adat tidak mati suri.***

Bercocok Tanam Sambil Menyanyikan Pujian

Suku-suku asli di Indonesia mempunyai beragam tradisi bercocok tanam sampai memanen hasil buminya. Ada yang diiringi nyanyian dan musik tradisional. Ada pula yang didahului dengan ritual adat khusus.Suku Lauje, suku asli di Parigi Moutong, Sulawesi Tengah mempunyai tradisi memulai musim bercocok tanam hingga memanen hasil buminya dengan ritual adat yang unik dan menarik. Saat menanam, biasanya menanam benih padi ladang, mereka melakukannya secara berkelompok dengan diiringi nyanyian.

Sebelumnya didahului dengan menanam tanaman penanda lahan yang akan di tanami. Tanaman yang dipakai biasanya pohon jarak atau mereka menyebutnya balacai.

Tradisi itu dinamai mangetek. Para tetua kampong terlebih dahulu menanam balacai sebagai patokan para anggota suku untuk menanam. Lalu para lelaki dengan menggunakan tugal menggali tanah untuk menanam benih padi ladang. Itu dilakukan sambil menyanyi dengan riang. Isinya berupa pujian kepada Tuhan dan ucapan syukur bahwa tanah mereka subur. Lalu, para perempuan kemudian menebar benih di belakang para lelaki itu.

Tradisi Suku Lauje ini sudah hidup sejak ratusan tahun lalu. Salah satu suku asli di Sulawesi Tengah ini dulunya begitu tertutup. Namun, kini mereka sudah mulai membuka diri dan bergaul dengan kelompok masyarakat lainnya.

Nah, kembali ke cara bercocok tanam tadi. Keunikan tradisinya tidak berhenti sampai di situ saja. Pada saat hendak memanen , lalu menumbuk padi hasil panen mereka ada lagi upacara yang mereka namakan Mengalu. Yaitu menumbuk padi hingga menjadi beras di dalam lesung kayu. Menumbuknya harus berirama. Seringkali juga ditingkahi dengan sorak-sorai.

Meski lubang lesungnya kecil tapi alunya tidak bertumbukkan satu sama lain. Menarik bukan?!

Menurut Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sulawesi Tengah, Mohammad Rahmatu, tradisi ini terwariskan secara turun-temurun melalui penuturan lisan dan laku.

“Suku Lauje kaya dengan tradisi yang menarik. Coba kita lihat tradisi mangetek dan mengalu yang mereka lakukan, sungguh luar biasa. Puji-pujian yang mereka panjatkan ketika bercocok tanam bisa jadi tidak lagi dilakukan oleh masyarakat kebanyakan, tapi Suku Lauje masih melestarikanny,” jelas Mohammad.

Suku Lauje di Parigi Moutong, Sulawesi Tengah merupakan salah satu anak suku Kaili, suku terbesar di daerah ini. Mereka bermukim di lereng-lereng dan lembah di pedalaman, di daerah lumbung padi ini. Anggota komunitas mereka sekitar 1.000 jiwa lebih. Ada yang masih terus bertahan di pedalaman. Ada pula yang sudah membaur dengan masyarakat setempat. Mereka mempunyai banyak tradisi unik dalam bercocok tanam yang hingga kini masih mereka lestarikan.

Suku Lauje

MASYARAKAT Suku Lauje, di Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, mempunyai tradisi unik dalam menerima tamu atau pembesar yang baru berkunjung ke daerahnya. Mereka akan menyambutnya dengan tarian perang yang dimainkan oleh empat lelaki yang menggunakan guma atau parang panjang, serta dua orang yang bertombak. Penyambutan itu juga diiringi musik yang terdiri dari susulan balok kayu, gendang dan gong besar.Sabtu (19/04/2008) lalu, empat orang lelaki menggunakan guma dan dua lelaki lainnya menggunakan tombak terlihat berhadapan dengan sejumlah tamu. Di antara tamu itu terlihat Bupati Parigi Moutong LOngki Djanggola dan Camat Palasa Darwis Rahmatu. Mereka lalu berteriak dan berlaga dengan sesama mereka di depan para tamu penting itu. Jangan salah kira, mereka bukan hendak saling membunuh. Mereka ternyata sedang menyambut tamu-tamunya itu.

Tradisi tarian perang ini, biasanya disebut Meaju. Lazim ditarikan kala menerima tamu atau pembesar, semisal Presiden, Menteri, Gubernur atau Bupati, serta tamu-tamu lainnya.

Para tamu-tamu yang datang akan diarak menuju Pogombo Ada atau balai pertemuan adat. Sebelumnya, para tamu itu dihamburkan beras kuning, sebagai bentuk penghormatan. Lalu para tamu harus menginjak dulang dari kuningan yang berisi tanaman tertentu. Maknanya, di mana tanah dipijak, di situ langit dijunjung, di mana kita bermukim, sudah seharusnya adatyan pun kita hormati.

Sementara arakan itu berlangsung, tiga orang anggota komunitas Suku Lauje memainkan alat musik yang terdiri dari Tadako, kulintang, Gimbale atau gendang dan Gong besar.

Jika Anda tertarik, sekali-kali, berkunjunglah ke Palasa, Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Jaraknya sekitar 200 kilometer dari Palu, Ibukota Provinsi Sulawesi Tengah.

April 20, 2008

Minggu, 08 November 2009

Duata, Tradisi Pengobatan Alternatif Suku Bajo yang Masih Lestari

Suku bajo atau bajjau akrab dengan kehidupan laut. Bagi mereka laut adalah ladang.
Di Wakatobi komunitas bajo tersebar dibeberapa tempat. Ada bajo Mola di Wangi-Wangi, Sampela, Lohoa dan Mantigola di Kaledupa dan Lamanggau di Pulau Tomia. Dalam sejarah masa lampau kehidupan komunitas ini selalu berpindah dari satu tempat ketempat lain. Sehingga Suku Bajo selalu ditemukan dihampir semua Negara yang memiliki pesisir pantai.
Namun begitu, kehidupan ini tak melunturkan kebudayaan masyarakat Bajo. Salah satunya adalah Prosesi Duata. Dalam pelaksanan Festival Wakatobi Sail Indonesia Prosesi ini juga ditampilkan. Untuk dipertontonkan pada wisatawan asing yang berkunjung di Wakatobi sebagai peserta Rally Sail Dunia tahun ini.
Duata merupakan kata saduran dari sebutan Dewata. Dalam keyakinan masyarakat bajo Duata adalah Dewa yang turun dari langit dan menjelma pada manusia.
Tradisi Duata adalah puncak dari segala upaya pengobatan tradisional suku bajo. Ini dilakukan jika ada salah satu diantara mereka mengalami sakit keras dan tak lagi dapat disembuhkan dengan cara lain termasuk pengobatan medis.
Dalam prosesi duata yang digelar pada pelakasanaan Festival Budaya Wakatobi, sejumlah tetua adat terlihat berkumpul di satu tempat pengobatan. Berbentuk satu ruangan dengan ukura sekira 2 meter persegi. Dihiasi dengan janur kuning bagian atasnya tanpa pagar. Ada pula Ula-Ula, bendera yang merupakan lambang kebesaran suku bajo yang diyakini membawa keberkahan.

Tetua adat yang didominasi perempuan lanjut usia meramu berbagai jenis pelengkap ritual. Ada beras berwarna warni yang dientuk melingar diatas daun pisang. Ini melambangkan warna-warni sifat yang dimiliki manusia. Ada pula dupa, yang pula pembaran dupa untuk mengharumkan sekitar pelakksanan kegiatan, daun sirih, kelapa dan pisang.
Setelah semuanya terracik sebagai mana kebiasaan sebelumnya, orang yang akan diobati digiring menuju laut. Sepanjang perjalanan lagu Lilligo tak pernah putus dinyanyikan. Demikian dengan tabuhan gendang. Dibarisan terdepan delapan orang gadis cantik berpakaian adat juga tak hentinya-hentinya nenari tarian Ngigal.
Di atas perahu semua peserta juga menari Ngigal untuk menyemangati oranng yang diobati agar kembali menemukan semangat hidupnya. Sementara tetua adat melakukan prosesi larungan. Ada pisang dan beberapa jenis bahan komsumsi serta perlengkapan tidur, berupa bantal dan tikar.
Menurut cerita porosei ini dilakukan untuk memberi makan saudara kembar si sakit yang berada di laut. Dalam kehidupoan masyarakat bajo mempercayai bahwa setiap kelahiran anak pasti bersama kembaran yang langsung hidup di laut.
Sehingga jika salah satu diantara mereka menderita sakit keras, dipercayai bahwa sebagian semangat hidup orang itu telah dambil oleh saudara kembarnya yang disebut Kakak dan dibawa kelaut sebagian lagi diambil oleh dewa dan di bawa naik dilangit ke tujuh. Sehingga prosesi ini dilakukan untuk meminta kembali semangat hidup yang dibawa kelaut dan kelangit.
Usai pelarungan, si sakit dan teteua adat kembali ditempat semula. Orang yang sakit akan kembali melaui beberapa prosesi pengobatan seperti mandi dengan bunga pinang (mayah). Berguna untuk membersihkan penyakit yang ada dalam tubunya dan mengusir roh jahat yang menyebabkan sakit.
Tetaua adat juga akan mengikatkan benaga dilengan si sakit sebagai obat, konon benang ini berasal dari langit ketujuh yang dibawa turun oleh 7 bidadari sebagai obat bagi si sakait. Dari bengn yang sebelunya tersimpan dalam cangkir tetua adat dapat mengetahui apakah yang sakit ini masih dapat sembut atau tidak.
Untuk menguji kesembuhannya, salah satu tetua adat akan menancapkan keris tepat diatas ubun-ubun orang yang sedang dalam pengobatan. Selanjutanya orang sakit tersub di putari sebanyak beberatpa kali oleh tetua adat sambil membawa keris yang terhunus. Ini dilakukan untuk menguji mental orang yang dalam pengobatan.
Pengujian kesembuhan ini juga dilakuakn dengan cara mengadu dua ekor ayam jantan. Jika ayam si sakit menang maka itu berarti sisakit telah sembuh.

Selanjutnya si sakit akan menghabur-hamburkan beras sebagai wujud kebegembiraan karena telah terbebas dari penyakit yang diderinya. Sementara keluarga dan sanak saudara bersorak dengan meriah merayakan kesembuhan si Sakit.
Mustamin, Ketua Kerukunan Keluarga (Kekar) Bajo yang juga menjabat sebagai Kepala Desa Mola Selatan mengatakan dalam kehidupan masyarakat Bajo pelaksanaan Tradisi Duata tidak terbatas pada prosesi pengobatan tetapi juga dapat dilakukan dalam acara syukuran dan hajatan. Tradisi ini juga dilakukan untuk memberikan penghargaan pada penguasa laut yang mereka sebut sebagai Mbo Janggo atau Mbi Gulli.
Ia berharap kekayaan tradisi yang dimiliki Masyarakat Bajo dapat semakin menambah kekayaan budaya di Wakatobi. Sehingga Wakatobi dapat mengeksiskan diri sebagai Daerah Surga Nyata baik darat dan lautnya di kawasan pusat segitiga karang dunia. Semoga***

Selasa, 13 Oktober 2009

Manrundun Banni, Tradisi "Tujuh Bulanan" Padi di Enrekang

Suatu pagi di Kampung Marena, Desa Pekkalobeang, Kecamatan Anggeraja, Kabupaten Enrekang, 236 kilometer utara Makassar, Sulawesi Selatan. Sebagian desa masih tertutup kabut. Udara dingin begitu menusuk hingga terasa ke dalam tulang. Begitu dinginnya, kopi yang disajikan pun tak butuh waktu lama, apalagi ditiup, untuk menjadi dingin. Namun, rupanya dingin pagi itu tak membuat warga larut dan berniat berlama-lama dibalik sarung atau selimut.

google.com
Acara ini digelar untuk tanaman padi atau benih (banni) yang berusia sebulan.
Masih pukul 06.00 Wita, sebagian besar warga dari berbagai kampung sudah mulai berkumpul di Desa Pekkalobeang. Tak hanya orang dewasa, remaja, bahkan anak-anak pun turut serta. Tergambar jelas keceriaan di wajah mereka. Umumnya setiap keluarga membawa satu atau dua ekor ayam kampung hidup. Sebagian lagi membawa beragam bahan makanan baik yang sudah jadi maupun masih mentah.

Berkumpulnya warga memang sudah disepakati sebelumnya oleh para tokoh adat dan tokoh masyarakat untuk melaksanakan tradisi Manrundun Banni. Ritual ini kurang lebih sama dengan acara tujuh bulanan pada perempuan yang sedang mengandung. Namun, acara ini digelar untuk tanaman padi atau benih (banni) yang berusia sebulan. Memang, bagi warga Enrekang, selama belum berbuah, tanaman padi belum disebut padi, tetapi benih.

Bersamaan dengan mentari yang mulai naik, warga dan tokoh adat berduyun-duyun ke tempat acara, sebuah dataran agak luas yang berada agak di ketinggian dengan sawah di sekelilingnya. Tanpa banyak bicara, setiba di lokasi acara, sebagian lelaki langsung membuat karerang. Karerang adalah pelepah daun enau yang ditancapkan di tanah dan daun-daunnya dianyam sedemikian rupa menjadi semacam wadah yang nantinya akan diisi makanan. Karerang ini berjejer di tanah dan jumlahnya mencapai puluhan.

Sebagian lelaki lainnya memasang tenda dan tikar, sementara sebagian lainnya menyiapkan sesaji serta kemenyan. Saat tenda dan tikar terpasang, tuak manis pun dituang dan diminum beramai-ramai. Adapun kaum perempuan sibuk menyalakan kayu bakar, menyiapkan bumbu, menanak nasi, dan makanan lain. Satu per satu ayam yang jumlahnya hampir mencapai 100 ekor lalu disembelih dan langsung dimasak dalam beberapa kuali besar.

Sembari menunggu makanan matang dan untuk menghibur warga, terutama yang sibuk bekerja dan memasak, sebagian lelaki memainkan atraksi dan kesenian tradisional manggalelung. Kesenian ini adalah bentuk tarian yang berpadu seni olah tubuh dan pencak silat. Sembari atraksi dimainkan, bunyi-bunyian dari alat musik gendang, seruling, kecapi, dan lainnya juga dimainkan disertai tembang dengan syair berisi cerita baik yang lucu maupun petuah.

"Awalnya manggalelung ini dilakukan petani yang lelah bekerja. Lazimnya dilakukan dua orang. Biasanya mereka melakukan gerakan-gerakan tertentu seperti saling membelakangi dengan tangan berpaut dan bergantian saling memanggul. Ada juga gerakan di mana yang satu tengkurap dan satu lainnya melakukan gerakan-gerakan tertentu di bagian belakangnya, yang intinya membuat urat-urat jadi kendur dan menghilangkan rasa lelah. Atraksi yang semula hanya dilakukan petani di pinggir sawah untuk mengusir lelah ini akhirnya menjadi salah satu bentuk seni tradisi di Enrekang," kata Hasanuddin (52), salah seorang pa’galelung, sebutan untuk pemain manggalelung.

Benar saja, tanpa terasa, aktivitas masak-memasak pun selesai dan seluruh warga berkumpul di sekitar tenda utama. Makanan yang sudah matang diatur dalam daun pisang, masing-masing berisi lappa-lappa (nasi ketan berbentuk bulat panjang berujung pipih, berbungkus daun kelapa, ada pula potongan daging ayam, ikan bakar, dan makanan lainnya). Makanan berkuah diatur dalam wadah segi empat terbuat dari daun pisang. Saat seluruh makanan sudah diatur dalam wadah, acara makan bersama pun dimulai. Adapun karerang yang juga berisi makanan dibawa ke sawah.

Menurut kepercayaan masyarakat setempat, makanan yang dibawa ke sawah adalah simbol berbagi makanan atau memberi makan pada tikus atau hama lainnya. Hal ini dimaksudkan agar tikus-tikus dan hama lainnya tak lagi menyerang tanaman padi karena telah diberi makan. Bukan hanya saat melaksanakan Manrundun Banni, bahkan sebelum menanam pun warga sudah memberi makan pada tikus.

"Entah ada hubungannya atau tidak, nyatanya sepanjang kami masih rutin melaksanakan Manrundun Banni, tanaman padi hampir tak pernah diserang tikus atau hama lainnya. Kalau pun pernah ada yang diserang, biasanya hanya sedikit sekali. Karena itu, masyarakat di sini rutin melaksanakan acara ini, terutama setelah umur benih yang ditanam memasuki bulan pertama," ujar Piter Kada, salah seorang tokoh adat.

Ajang musyawarah

Inti acara Manrundun Banni sebenarnya bukan sekadar memotong ayam, makan-makan, dan membawa sesaji ke sawah untuk memberi makan pada tikus, tetapi yang terpenting adalah acara dialog atau musyawarah yang dilaksanakan seusai acara makan dan ritual lainnya. Dalam acara ini, para tokoh adat dan masyarakat berkumpul membicarakan kelangsungan tanaman padi mereka yang masih berusia sebulan.

"Biasanya kalau dalam acara Manrundun Banni sudah ada laporan tentang gejala serangan hama, walaupun sedikit, kami segera berembuk mencari jalan keluarnya. Entah menggunakan pestisida, mencari sumber serangan, termasuk apa-apa yang menyebabkan hama datang. Biasanya mereka memasukkan usulan dan mana yang dianggap terbaik dan menjadi kesepakatan bersama, itulah yang dijalankan," kata Piter.

Menurut Agus Ryadi, Ketua Yayasan Tora Bulan, lembaga yang bergiat dalam kegiatan seni dan budaya di Enrekang, biasanya serangan hama tikus bukan sekadar diartikan sebagai serangan hama semata. Pasalnya, bentuk serangan hama ini biasanya juga menjadi acuan untuk melihat kinerja dan keadilan para tokoh adat dalam menyelesaikan masalah.

"Misalnya kalau serangan merata di satu areal, itu menjadi penggambaran kalau para tokoh adat cukup adil menyelesaikan masalah. Tapi kalau serangannya pada satu areal, hanya pada satu sisi saja, ini biasanya diartikan bahwa tokoh adat berat sebelah atau memihak," jelas Agus.

Hal ini dibenarkan Anwar, salah satu tokoh adat dari Desa Marena. "Makanya setiap apa pun yang terjadi pada tanaman padi akan menjadi masukan maupun pertanda bagi warga, baik mengenai perilaku mereka maupun tokoh adat," katanya.

Bagi masyarakat di Kabupaten Enrekang, kabupaten bertanah subur dengan pemandangan elok, bercocok tanam, terutama padi, memang menjadi salah satu mata pencarian utama. Selain padi, daerah ini juga terkenal dengan produksi beragam hasil tanaman, seperti kopi, cengkeh, kakao, buah-buahan, dan sayuran.

Arti penting padi pula yang membuat masyarakat di daerah berhawa dingin ini senantiasa menjaga tradisi padi. Kalau masyarakat di Kecamatan Anggeraja dan sekitarnya melestarikan tradisi Manrundun Banni, maka di dataran tinggi, yakni di Kecamatan Baraka dan sekitarnya, masyarakat masih meneruskan tradisi lumbung padi yang sudah dimulai lebih dari 100 tahun lalu.

Di daerah dataran tinggi ini boleh dikata seluruh rumah memiliki lumbung, atau bagi masyarakat di daerah ini akrab disebut landa. Tak hanya satu, bahkan bisa saja satu rumah memiliki dua atau tiga landa. Ini belum termasuk landa milik desa yang diisi secara swadaya oleh masyarakat untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan, seperti bencana alam, kekeringan, dan gagal panen.

Di Anggeraja pula, masyarakat menganut faham, tak menjual tanah warisan, terutama sawah, untuk menjaga agar kepemilikan sawah tak kian berkurang. Adapun pengelolaannya digilir per tahun atau per periode yang disepakati hingga seluruh ahli waris mendapatkan hal yang sama dari sawah warisan.

Begitu terjaganya tradisi padi di Enrekang, sebagian petani masih menanam padi lokal yang masa tanam hingga panen membutuhkan waktu lima bulan.

Manrundun Banni, Tradisi "Tujuh Bulanan" Padi di Enrekang

Suatu pagi di Kampung Marena, Desa Pekkalobeang, Kecamatan Anggeraja, Kabupaten Enrekang, 236 kilometer utara Makassar, Sulawesi Selatan. Sebagian desa masih tertutup kabut. Udara dingin begitu menusuk hingga terasa ke dalam tulang. Begitu dinginnya, kopi yang disajikan pun tak butuh waktu lama, apalagi ditiup, untuk menjadi dingin. Namun, rupanya dingin pagi itu tak membuat warga larut dan berniat berlama-lama dibalik sarung atau selimut.

google.com
Acara ini digelar untuk tanaman padi atau benih (banni) yang berusia sebulan.
Masih pukul 06.00 Wita, sebagian besar warga dari berbagai kampung sudah mulai berkumpul di Desa Pekkalobeang. Tak hanya orang dewasa, remaja, bahkan anak-anak pun turut serta. Tergambar jelas keceriaan di wajah mereka. Umumnya setiap keluarga membawa satu atau dua ekor ayam kampung hidup. Sebagian lagi membawa beragam bahan makanan baik yang sudah jadi maupun masih mentah.

Berkumpulnya warga memang sudah disepakati sebelumnya oleh para tokoh adat dan tokoh masyarakat untuk melaksanakan tradisi Manrundun Banni. Ritual ini kurang lebih sama dengan acara tujuh bulanan pada perempuan yang sedang mengandung. Namun, acara ini digelar untuk tanaman padi atau benih (banni) yang berusia sebulan. Memang, bagi warga Enrekang, selama belum berbuah, tanaman padi belum disebut padi, tetapi benih.

Bersamaan dengan mentari yang mulai naik, warga dan tokoh adat berduyun-duyun ke tempat acara, sebuah dataran agak luas yang berada agak di ketinggian dengan sawah di sekelilingnya. Tanpa banyak bicara, setiba di lokasi acara, sebagian lelaki langsung membuat karerang. Karerang adalah pelepah daun enau yang ditancapkan di tanah dan daun-daunnya dianyam sedemikian rupa menjadi semacam wadah yang nantinya akan diisi makanan. Karerang ini berjejer di tanah dan jumlahnya mencapai puluhan.

Sebagian lelaki lainnya memasang tenda dan tikar, sementara sebagian lainnya menyiapkan sesaji serta kemenyan. Saat tenda dan tikar terpasang, tuak manis pun dituang dan diminum beramai-ramai. Adapun kaum perempuan sibuk menyalakan kayu bakar, menyiapkan bumbu, menanak nasi, dan makanan lain. Satu per satu ayam yang jumlahnya hampir mencapai 100 ekor lalu disembelih dan langsung dimasak dalam beberapa kuali besar.

Sembari menunggu makanan matang dan untuk menghibur warga, terutama yang sibuk bekerja dan memasak, sebagian lelaki memainkan atraksi dan kesenian tradisional manggalelung. Kesenian ini adalah bentuk tarian yang berpadu seni olah tubuh dan pencak silat. Sembari atraksi dimainkan, bunyi-bunyian dari alat musik gendang, seruling, kecapi, dan lainnya juga dimainkan disertai tembang dengan syair berisi cerita baik yang lucu maupun petuah.

"Awalnya manggalelung ini dilakukan petani yang lelah bekerja. Lazimnya dilakukan dua orang. Biasanya mereka melakukan gerakan-gerakan tertentu seperti saling membelakangi dengan tangan berpaut dan bergantian saling memanggul. Ada juga gerakan di mana yang satu tengkurap dan satu lainnya melakukan gerakan-gerakan tertentu di bagian belakangnya, yang intinya membuat urat-urat jadi kendur dan menghilangkan rasa lelah. Atraksi yang semula hanya dilakukan petani di pinggir sawah untuk mengusir lelah ini akhirnya menjadi salah satu bentuk seni tradisi di Enrekang," kata Hasanuddin (52), salah seorang pa’galelung, sebutan untuk pemain manggalelung.

Benar saja, tanpa terasa, aktivitas masak-memasak pun selesai dan seluruh warga berkumpul di sekitar tenda utama. Makanan yang sudah matang diatur dalam daun pisang, masing-masing berisi lappa-lappa (nasi ketan berbentuk bulat panjang berujung pipih, berbungkus daun kelapa, ada pula potongan daging ayam, ikan bakar, dan makanan lainnya). Makanan berkuah diatur dalam wadah segi empat terbuat dari daun pisang. Saat seluruh makanan sudah diatur dalam wadah, acara makan bersama pun dimulai. Adapun karerang yang juga berisi makanan dibawa ke sawah.

Menurut kepercayaan masyarakat setempat, makanan yang dibawa ke sawah adalah simbol berbagi makanan atau memberi makan pada tikus atau hama lainnya. Hal ini dimaksudkan agar tikus-tikus dan hama lainnya tak lagi menyerang tanaman padi karena telah diberi makan. Bukan hanya saat melaksanakan Manrundun Banni, bahkan sebelum menanam pun warga sudah memberi makan pada tikus.

"Entah ada hubungannya atau tidak, nyatanya sepanjang kami masih rutin melaksanakan Manrundun Banni, tanaman padi hampir tak pernah diserang tikus atau hama lainnya. Kalau pun pernah ada yang diserang, biasanya hanya sedikit sekali. Karena itu, masyarakat di sini rutin melaksanakan acara ini, terutama setelah umur benih yang ditanam memasuki bulan pertama," ujar Piter Kada, salah seorang tokoh adat.

Ajang musyawarah

Inti acara Manrundun Banni sebenarnya bukan sekadar memotong ayam, makan-makan, dan membawa sesaji ke sawah untuk memberi makan pada tikus, tetapi yang terpenting adalah acara dialog atau musyawarah yang dilaksanakan seusai acara makan dan ritual lainnya. Dalam acara ini, para tokoh adat dan masyarakat berkumpul membicarakan kelangsungan tanaman padi mereka yang masih berusia sebulan.

"Biasanya kalau dalam acara Manrundun Banni sudah ada laporan tentang gejala serangan hama, walaupun sedikit, kami segera berembuk mencari jalan keluarnya. Entah menggunakan pestisida, mencari sumber serangan, termasuk apa-apa yang menyebabkan hama datang. Biasanya mereka memasukkan usulan dan mana yang dianggap terbaik dan menjadi kesepakatan bersama, itulah yang dijalankan," kata Piter.

Menurut Agus Ryadi, Ketua Yayasan Tora Bulan, lembaga yang bergiat dalam kegiatan seni dan budaya di Enrekang, biasanya serangan hama tikus bukan sekadar diartikan sebagai serangan hama semata. Pasalnya, bentuk serangan hama ini biasanya juga menjadi acuan untuk melihat kinerja dan keadilan para tokoh adat dalam menyelesaikan masalah.

"Misalnya kalau serangan merata di satu areal, itu menjadi penggambaran kalau para tokoh adat cukup adil menyelesaikan masalah. Tapi kalau serangannya pada satu areal, hanya pada satu sisi saja, ini biasanya diartikan bahwa tokoh adat berat sebelah atau memihak," jelas Agus.

Hal ini dibenarkan Anwar, salah satu tokoh adat dari Desa Marena. "Makanya setiap apa pun yang terjadi pada tanaman padi akan menjadi masukan maupun pertanda bagi warga, baik mengenai perilaku mereka maupun tokoh adat," katanya.

Bagi masyarakat di Kabupaten Enrekang, kabupaten bertanah subur dengan pemandangan elok, bercocok tanam, terutama padi, memang menjadi salah satu mata pencarian utama. Selain padi, daerah ini juga terkenal dengan produksi beragam hasil tanaman, seperti kopi, cengkeh, kakao, buah-buahan, dan sayuran.

Arti penting padi pula yang membuat masyarakat di daerah berhawa dingin ini senantiasa menjaga tradisi padi. Kalau masyarakat di Kecamatan Anggeraja dan sekitarnya melestarikan tradisi Manrundun Banni, maka di dataran tinggi, yakni di Kecamatan Baraka dan sekitarnya, masyarakat masih meneruskan tradisi lumbung padi yang sudah dimulai lebih dari 100 tahun lalu.

Di daerah dataran tinggi ini boleh dikata seluruh rumah memiliki lumbung, atau bagi masyarakat di daerah ini akrab disebut landa. Tak hanya satu, bahkan bisa saja satu rumah memiliki dua atau tiga landa. Ini belum termasuk landa milik desa yang diisi secara swadaya oleh masyarakat untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan, seperti bencana alam, kekeringan, dan gagal panen.

Di Anggeraja pula, masyarakat menganut faham, tak menjual tanah warisan, terutama sawah, untuk menjaga agar kepemilikan sawah tak kian berkurang. Adapun pengelolaannya digilir per tahun atau per periode yang disepakati hingga seluruh ahli waris mendapatkan hal yang sama dari sawah warisan.

Begitu terjaganya tradisi padi di Enrekang, sebagian petani masih menanam padi lokal yang masa tanam hingga panen membutuhkan waktu lima bulan.