Tradisi Perang Ketupat di Tempilang
A. Selayang Pandang
Perang Ketupat merupakan salah satu ritual upacara masyarakat Pantai Pasir Kuning, Tempilang, Bangka Barat. Upacara ini dimaksudkan untuk memberi makan makhluk halus yang dipercaya bertempat tinggal di daratan. Menurut para dukun, makhluk-makhluk halus itu bertabiat baik dan menjadi penjaga Desa Tempilang dari roh-roh jahat. Oleh karena itu, mereka harus diberi makan agar tetap bersikap baik terhadap warga desa.
Tidak ada yang mengetahui secara pasti kapan tradisi ini dimulai. Namun, berdasarkan cerita rakyat, tradisi ini sudah ada ketika Gunung Krakatau meletus pada tahun 1883. Ada juga yang menyatakan, kegiatan ini telah dilaksanakan sejak zaman penjajahan Portugis. Yang jelas upacara ini terus digelar secara turun-temurun hingga kini.
Upacara ini memakan waktu selama dua hari. Hari pertama, upacara dimulai pada malam hari dengan menampilkan beberapa tarian tradisional mengiringi sesaji untuk makhluk halus yang diletakkan di atas penimbong atau rumah-rumahan dari kayu menangor. Para dukun kemudian memulai upacara. Hari kedua, upacara Perang Ketupat yang dimulai dengan terlebih dahulu menampilkan tari Serimbang. Dukun laut dan dukun darat bersanding membacakan mantra-mantra di depan ketupat yang berjumlah 40 buah. Setelah itu, ketupat disusun rapi di atas tikar pandan. Pemuda berjumlah 20 pun diatur berdiri berhadap-hadapan. Mereka saling berebut dan saling lempar ketupat. Setelah suasana kacau, salah seorang dukun meniup peluit tanda perang ketupat tahap pertama selesai. Setelah itu dilanjutkan perang ketupat tahap kedua dengan proses yang sama. Upacara Perang Ketupat itu kemudian diakhiri dengan upacara Nganyot Perae (upacara menghanyutkan perahu mainan dari kayu ke laut sebagai tanda mengantar para makhluk halus pulang agar tidak mengganggu masyarakat Tempilang.
B. Keistimewaan
Keistimewaan upacara ini tampak pada kemasan acara yang penuh dengan tarian tradisional (tari Campak, tari Serimpang, tari Kedidi, tari Seramo, dan tari Kamei) dan upacara tambahan seperti upacara Penimbongan, Ngancak, dan Nganyot Perae. Dalam upacara ini pengunjung seakan diajak masuk ke alam mistis ketika secara tiba-tiba empat dukun secara bergantian tidak sadar (trance). Dukun yang satu “disadarkan”, dukun satunya lagi tidak sadar hingga semua dukun mengalami trance.
C. Lokasi dan waktu pelaksanaan
Pelaksanaan Upacara Perang Ketupat ini dipusatkan di Pantai Pasir Kuning, Desa Tempilang, Kecamatan Tempilang, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Upacara ini dilaksanakan menjelang bulan puasa (Ramadhan).
D. Akses
Jarak dari ibukota Kabupaten Bangka Barat (Mentok) ke lokasi sekitar 36 km. Pengunjung disarankan menggunakan kendaraan pribadi karena kendaraan umum yang menuju desa dan lokasi upacara sangat jarang. Pengunjung juga harus berhati-hati karena banyak sekali jalan berlobang dengan debu-debu yang beterbangan di pinggir jalan jika cuaca panas. Oleh karena jalan yang kurang baik, akses ke lokasi membutuhkan waktu tempuh sekitar 25 menit.
E. Harga tiket
Pengunjung tidak ditarik biaya.
F. Fasilitas dan Akomodasi
Di desa dan sekitar pantai ini, pengunjung juga bisa dengan mudah menemukan penginapan, restoran, dan rumah makan.
Senin, 21 Desember 2009
Tradisi Tumbilotohe
A. Selayang Pandang
Tumbilotohe dalam bahasa Gorontalo terdiri dua suku kata, yaitu tumbilo berarti pasang, dan tohe berarti lampu. Jadi, Tumbilotohe berarti acara pasang lampu. Menurut sejarah, Tumbilotohe merupakan tradisi masyarakat Gorontalo masa lampau yang sudah berlangsung sejak abad ke-15 M. Tradisi ini dilaksanakan pada 3 malam terakhir menjelang hari Raya Idul Fitri, yaitu pada tanggal 27 hingga 30 Ramadhan, mulai magrib hingga pagi hari.
Di masa lampau, pelaksanaan Tumbilotohe dimaksudkan untuk memudahkan umat Islam dalam memberikan zakat fitrah pada malam hari. Pada masa itu, lampu penerangan masih terbuat dari damar dan getah pohon yang mampu menyala dalam waktu lama. Oleh karena semakin berkurangnya damar, maka bahan lampu penerangan diganti dengan minyak kelapa (padalama) dan kemudian diganti dengan minyak tanah.
Seiring dengan perkembangan zaman, banyak warga Gorontalo mengganti lampu penerangannya dengan lampu kelap-kelip dalam berbagai warna. Namun, sebagian warga masih tetap menggunakan lampu minyak tanah sebagai penerangan. Lampu-lampu minyak tersebut digantung pada sebuah kerangka kayu yang dihiasi dengan janur kuning. Di atas kerangka itu juga digantung buah pisang sebagai lambang kesejahteraan, dan tebu sebagai lambang kemanisan, keramahan, serta kemuliaan menyambut hari raya Idul Fitri. Tradisi ini menjadi daya tarik tersendiri bagi warga pendatang, terutama warga kota tetangga, seperti Manado, Palu, dan Makassar. Mereka sengaja berkunjung ke Gorontalo untuk menyaksikan tradisi Tumbilotohe.
B. Keistimewaan
Pada saat ritual Tumbilotohe dilaksanakan, Kota Gorontalo berubah menjadi semarak, karena lampu-lampu penerangan dari berbagai jenis dan bentuk tidak hanya menerangi halaman rumah warga, tetapi juga menerangi halaman kantor, masjid, dan lapangan sepak bola. Bahkan, petakan sawah dan lahan-lahan kosong yang luas pun dipenuhi dengan lampu botol dalam berbagai bentuk, seperti gambar masjid, kitab suci Alquran, dan tulisan kaligrafi yang sangat indah dan mempesona. Selain itu, hampir semua alikusu atau kerangka pintu gerbang, baik rumah, masjid, kantor, maupun perbatasan suatu daerah, juga dihiasi dengan janur, pohon pisang, tebu, dan lampu-lampu minyak.
Ritual yang diselenggarakan selama tiga malam tersebut menjadi semakin ramai dan semarak dengan adanya atraksi bunggo (meriam bambu) yang dimainkan oleh anak-anak muda Kota Gorontalo. Para pemain bunggo tersebut saling balas dan saling adu kerasnya bunyi. Menjelang sahur, mereka mengarahkan bunggo tersebut ke kampung-kampung untuk membangunkan warga yang masih terlelap tidur agar bangun untuk makan sahur. Dengan suasana demikian, para pengunjung dapat merasakan nuansa religiusitas dan solidaritas bersama masyarakat setempat.
C. Lokasi
Tradisi Tumbilotohe terdapat di Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo, Indonesia.
D. Akses
Untuk mencapai Kota Gorontalo, perjalanan dapat ditempuh melalui tiga jalur, yaitu: jalur darat, laut, dan udara. Jika pengunjung berada di Pulau Sulawesi, perjalanan dapat ditempuh dengan menggunakan bis antar provinsi. Tapi jika pengunjung berada di luar Pulau Sulawesi, perjalanan dapat ditempuh melalui jalur laut dan jalur udara. Di Provinsi Gorontalo terdapat 2 pelabuhan, yakni Pelabuhan Gorontalo dan Pelabuhan Anggrek Kwandang di Kabupaten Gorontalo, dan sebuah bandar udara di Kecamatan Tibawa, Kabupaten Gorontalo. Bandara ini terletak kira-kira 35 km dari Kota Gorontalo.
E. Harga Tiket Masuk
Pengunjung tidak dikenai biaya tiket masuk.
F. Akomodasi dan Fasilitas
Di Kota Gorontalo tersedia banyak fasilitas pendukung, seperti: hotel, restoran, tempat ibadah, jasa sewa kendaraan, pusat oleh-oleh, ATM dan sarana komunikasi.
Tumbilotohe dalam bahasa Gorontalo terdiri dua suku kata, yaitu tumbilo berarti pasang, dan tohe berarti lampu. Jadi, Tumbilotohe berarti acara pasang lampu. Menurut sejarah, Tumbilotohe merupakan tradisi masyarakat Gorontalo masa lampau yang sudah berlangsung sejak abad ke-15 M. Tradisi ini dilaksanakan pada 3 malam terakhir menjelang hari Raya Idul Fitri, yaitu pada tanggal 27 hingga 30 Ramadhan, mulai magrib hingga pagi hari.
Di masa lampau, pelaksanaan Tumbilotohe dimaksudkan untuk memudahkan umat Islam dalam memberikan zakat fitrah pada malam hari. Pada masa itu, lampu penerangan masih terbuat dari damar dan getah pohon yang mampu menyala dalam waktu lama. Oleh karena semakin berkurangnya damar, maka bahan lampu penerangan diganti dengan minyak kelapa (padalama) dan kemudian diganti dengan minyak tanah.
Seiring dengan perkembangan zaman, banyak warga Gorontalo mengganti lampu penerangannya dengan lampu kelap-kelip dalam berbagai warna. Namun, sebagian warga masih tetap menggunakan lampu minyak tanah sebagai penerangan. Lampu-lampu minyak tersebut digantung pada sebuah kerangka kayu yang dihiasi dengan janur kuning. Di atas kerangka itu juga digantung buah pisang sebagai lambang kesejahteraan, dan tebu sebagai lambang kemanisan, keramahan, serta kemuliaan menyambut hari raya Idul Fitri. Tradisi ini menjadi daya tarik tersendiri bagi warga pendatang, terutama warga kota tetangga, seperti Manado, Palu, dan Makassar. Mereka sengaja berkunjung ke Gorontalo untuk menyaksikan tradisi Tumbilotohe.
B. Keistimewaan
Pada saat ritual Tumbilotohe dilaksanakan, Kota Gorontalo berubah menjadi semarak, karena lampu-lampu penerangan dari berbagai jenis dan bentuk tidak hanya menerangi halaman rumah warga, tetapi juga menerangi halaman kantor, masjid, dan lapangan sepak bola. Bahkan, petakan sawah dan lahan-lahan kosong yang luas pun dipenuhi dengan lampu botol dalam berbagai bentuk, seperti gambar masjid, kitab suci Alquran, dan tulisan kaligrafi yang sangat indah dan mempesona. Selain itu, hampir semua alikusu atau kerangka pintu gerbang, baik rumah, masjid, kantor, maupun perbatasan suatu daerah, juga dihiasi dengan janur, pohon pisang, tebu, dan lampu-lampu minyak.
Ritual yang diselenggarakan selama tiga malam tersebut menjadi semakin ramai dan semarak dengan adanya atraksi bunggo (meriam bambu) yang dimainkan oleh anak-anak muda Kota Gorontalo. Para pemain bunggo tersebut saling balas dan saling adu kerasnya bunyi. Menjelang sahur, mereka mengarahkan bunggo tersebut ke kampung-kampung untuk membangunkan warga yang masih terlelap tidur agar bangun untuk makan sahur. Dengan suasana demikian, para pengunjung dapat merasakan nuansa religiusitas dan solidaritas bersama masyarakat setempat.
C. Lokasi
Tradisi Tumbilotohe terdapat di Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo, Indonesia.
D. Akses
Untuk mencapai Kota Gorontalo, perjalanan dapat ditempuh melalui tiga jalur, yaitu: jalur darat, laut, dan udara. Jika pengunjung berada di Pulau Sulawesi, perjalanan dapat ditempuh dengan menggunakan bis antar provinsi. Tapi jika pengunjung berada di luar Pulau Sulawesi, perjalanan dapat ditempuh melalui jalur laut dan jalur udara. Di Provinsi Gorontalo terdapat 2 pelabuhan, yakni Pelabuhan Gorontalo dan Pelabuhan Anggrek Kwandang di Kabupaten Gorontalo, dan sebuah bandar udara di Kecamatan Tibawa, Kabupaten Gorontalo. Bandara ini terletak kira-kira 35 km dari Kota Gorontalo.
E. Harga Tiket Masuk
Pengunjung tidak dikenai biaya tiket masuk.
F. Akomodasi dan Fasilitas
Di Kota Gorontalo tersedia banyak fasilitas pendukung, seperti: hotel, restoran, tempat ibadah, jasa sewa kendaraan, pusat oleh-oleh, ATM dan sarana komunikasi.
Hombo Batu
A. Selayang Pandang
Hombo (lompat) batu merupakan tradisi yang sangat populer pada masyarakat Nias di Kabupaten Nias Selatan. Tradisi ini dilaksanakan oleh masyarakat di Desa Bawo Mataluo (Bukit Matahari). Desa Bawo Mataluo adalah desa yang kaya dengan situs megalitik (batu besar) berukir dan di dalamnya terdapat perumahan tradisional khas Nias (omo hada).
Setelah otonomi daerah pada tahun 2003, Desa Bawo Mataluo menjadi bagian dari wilayah Kabupaten Nias Selatan. Sebelumnya, desa ini masuk ke dalam wilayah Kabupaten Nias. Ibu kota kabupaten Nias Selatan ialah Teluk Dalam. Kabupaten ini memiliki keindahan alam dan keunikan budaya yang luar biasa.
B. Keistimewaan
Tradisi lompat batu adalah ritus budaya untuk menentukan apakah seorang pemuda di Desa Bawo Mataluo dapat diakui sebagai pemuda yang telah dewasa atau belum. Para pemuda itu akan diakui sebagai lelaki pemberani dan memenuhi syarat untuk menikah apabila dapat melompati sebuah tumpukan batu yang dibuat sedemikian rupa yang tingginya lebih dari dua meter. Ada upacara ritual khusus sebelum para pemuda melompatinya. Sambil mengenakan pakaian adat, mereka berlari dengan menginjak batu penopang kecil terlebih dahulu untuk dapat melewati bangunan batu yang tinggi tersebut. Banyak pemuda yang begitu bersemangat untuk dapat melompatinya.
C. Lokasi
Desa Bawo Mataluo berada di Kabupaten Nias Selatan, Provinsi Sumatera Utara, Indonesia.
D. Akses
Untuk mencapai lokasi wisata, pelancong dapat melalui perjalanan udara dari Medan ke Pulau Nias (Gunung Sitoli) dengan waktu tempuh kurang lebih 1 jam. Selain perjalanan udara, untuk mencapai Pulau Nias dapat juga ditempuh melalui perjalanan laut dengan menggunakan kapal ferry dari Sibolga ke Pulau Nias dengan waktu tempuh lebih kurang 10 jam. Dari Gunung Sitoli, wisatawan masih membutuhkan sekitar 3 jam perjalanan menuju Teluk Dalam dengan kendaraan roda dua atau empat.
E. Harga tiket
Wisatawan yang berkunjung ke Desa Bawo Mataluo tidak dipungut biaya.
F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya
Oleh karena Teluk Dalam adalah ibukota kabupaten, maka wisatawan tidak sulit mencari penginapan dari tingkat bungalow, penginapan kelas melati, ataupun hotel. Restoran dan kedai makanan juga ada di sekitar lokasi.
Hombo (lompat) batu merupakan tradisi yang sangat populer pada masyarakat Nias di Kabupaten Nias Selatan. Tradisi ini dilaksanakan oleh masyarakat di Desa Bawo Mataluo (Bukit Matahari). Desa Bawo Mataluo adalah desa yang kaya dengan situs megalitik (batu besar) berukir dan di dalamnya terdapat perumahan tradisional khas Nias (omo hada).
Setelah otonomi daerah pada tahun 2003, Desa Bawo Mataluo menjadi bagian dari wilayah Kabupaten Nias Selatan. Sebelumnya, desa ini masuk ke dalam wilayah Kabupaten Nias. Ibu kota kabupaten Nias Selatan ialah Teluk Dalam. Kabupaten ini memiliki keindahan alam dan keunikan budaya yang luar biasa.
B. Keistimewaan
Tradisi lompat batu adalah ritus budaya untuk menentukan apakah seorang pemuda di Desa Bawo Mataluo dapat diakui sebagai pemuda yang telah dewasa atau belum. Para pemuda itu akan diakui sebagai lelaki pemberani dan memenuhi syarat untuk menikah apabila dapat melompati sebuah tumpukan batu yang dibuat sedemikian rupa yang tingginya lebih dari dua meter. Ada upacara ritual khusus sebelum para pemuda melompatinya. Sambil mengenakan pakaian adat, mereka berlari dengan menginjak batu penopang kecil terlebih dahulu untuk dapat melewati bangunan batu yang tinggi tersebut. Banyak pemuda yang begitu bersemangat untuk dapat melompatinya.
C. Lokasi
Desa Bawo Mataluo berada di Kabupaten Nias Selatan, Provinsi Sumatera Utara, Indonesia.
D. Akses
Untuk mencapai lokasi wisata, pelancong dapat melalui perjalanan udara dari Medan ke Pulau Nias (Gunung Sitoli) dengan waktu tempuh kurang lebih 1 jam. Selain perjalanan udara, untuk mencapai Pulau Nias dapat juga ditempuh melalui perjalanan laut dengan menggunakan kapal ferry dari Sibolga ke Pulau Nias dengan waktu tempuh lebih kurang 10 jam. Dari Gunung Sitoli, wisatawan masih membutuhkan sekitar 3 jam perjalanan menuju Teluk Dalam dengan kendaraan roda dua atau empat.
E. Harga tiket
Wisatawan yang berkunjung ke Desa Bawo Mataluo tidak dipungut biaya.
F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya
Oleh karena Teluk Dalam adalah ibukota kabupaten, maka wisatawan tidak sulit mencari penginapan dari tingkat bungalow, penginapan kelas melati, ataupun hotel. Restoran dan kedai makanan juga ada di sekitar lokasi.
Upacara Posuo
A. Selayang Pandang
Tradisi Upacara Posuo yang berkembang di Sulawesi Tenggara (Buton) sudah berlangsung sejak zaman Kesultanan Buton. Upacara Posuo diadakan sebagai sarana untuk peralihan status seorang gadis dari remaja (labuabua) menjadi dewasa (kalambe), serta untuk mempersiapkan mentalnya.
Upacara tersebut dilaksanakan selama delapan hari delapan malam dalam ruangan khusus yang oleh mayarakat setempat disebut dengan suo. Selama dikurung di suo, para peserta dijauhkan dari pengaruh dunia luar, baik dari keluarga maupun lingkungan sekitarnya. Para peserta hanya boleh berhubungan dengan bhisa (pemimpin Upacara Posuo) yang telah ditunjuk oleh pemangku adat setempat. Para bhisa akan membimbing dan memberi petuah berupa pesan moral, spiritual, dan pengetahun membina keluarga yang baik kepada para peserta.
Dalam perkembangan masyarakat Buton, ada 3 jenis Posuo yang mereka kenal dan sampai saat ini upacara tersebut masih berkembang. Pertama, Posuo Wolio, merupakan tradisi Posuo awal yang berkembang dalam masyarakat Buton. Kedua, Posuo Johoro yang berasal dari Johor-Melayu (Malaysia) dan ketiga, Posuo Arabu yang berkembang setelah Islam masuk ke Buton. Posuo Arabu merupakan hasil modifikasi nilai-nilai Posuo Wolio dengan nilai-nilai ajaran agama Islam. Posuo ini diadaptasi oleh Syekh Haji Abdul Ghaniyyu, seorang ulama besar Buton yang hidup pada pertengahan abad XIX yang menjabat sebagai Kenipulu di Kesultanan Buton di bawah kepemimpinan Sultan Buton XXIX Muhammad Aydrus Qaimuddin. Tradisi Posuo Arabu inilah yang masih sering dilaksanakan oleh masyarakat Buton.
B. Keistimewaan
Keistimewaan Upacara Posuo terletak pada prosesinya. Ada tiga tahap yang mesti dilalui oleh para peserta agar mendapat status sebagai gadis dewasa. Pertama, sesi pauncura atau pengukuhan peserta sebagai calon peserta Posuo. Pada tahap ini prosesi dilakukan oleh bhisa senior (parika). Acara tersebut dimulai dengan tunuana dupa (membakar kemenyan) kemudian dilanjutkan dengan pembacaan doa. Setelah pembacaan doa selesai, parika melakukan panimpa (pemberkatan) kepada para peserta dengan memberikan sapuan asap kemenyan ke tubuh calon. Setelah itu, parika menyampaikan dua pesan, yaitu menjelaskan tujuan dari diadakannya upacara Posuo diiringi dengan pembacaan nama-nama para peserta upacara dan memberitahu kepada seluruh peserta dan juga keluarga bahwa selama upacara dilangsungkan, para peserta diisolasi dari dunia luar dan hanya boleh berhubungan dengan bhisa yang bertugas menemani para peserta yang sudah ditunjuk oleh pemangku adat.
Kedua, sesi bhaliana yimpo. Kegiatan ini dilaksanakan setelah upacara berjalan selama lima hari. Pada tahap ini para peserta diubah posisinya. Jika sebelummnya arah kepala menghadap ke selatan dan kaki ke arah utara, pada tahap ini kepala peserta dihadapkan ke arah barat dan kaki ke arah timur. Sesi ini berlangsung sampai hari ke tujuh.
Ketiga, sesi mata kariya. Tahap ini biasanya dilakukan tepat pada malam ke delapan dengan memandikan seluruh peserta yang ikut dalam Upacara Posuo menggunakan wadah bhosu (berupa buyung yang terbuat dari tanah liat). Khusus para peserta yang siap menikah, airnya dicampur dengan bunga cempaka dan bunga kamboja. Setelah selesai mandi, seluruh peserta didandani dengan busana ajo kalembe (khusus pakaian gadis dewasa). Biasanya peresmian tersebut dipimpin oleh istri moji (pejabat Masjid Keraton Buton).
Semua Upacara Posuo dimaksudkan untuk menguji kesucian (keperawanan) seorang gadis. Biasanya hal ini dapat dilihat dari ada atau tidaknya gendang yang pecah saat ditabuh oleh para bhisa. Jika ada gendang yang pecah, menunjukkan ada di antara peserta Posuo yang sudah tidak perawan dan jika tidak ada gendang yang pecah berarti para peserta diyakini masih perawan.
C. Lokasi
Upacara Posuo diadakan di Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara, Indonesia.
D. Akses
Untuk mencapai lokasi, perjalanan dimulai dari Kota Kendari ke Bau-Bau dengan menggunakan pesawat perintis atau kapal laut. Jika menggunakan pesawat perintis, perjalanan ditempuh sekitar 1 jam dan jika menggunakan kapal laut, waktu tempuh sekitar 4 jam.
E. Harga Tiket
Pengunjung yang datang tidak dipungut biaya.
F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya.
Di kota tempat diadakan Upacara Posuo, banyak tersedia hotel yang nyaman untuk menginap mulai dari hotel berbintang sampai hotel kelas melati. Begitu juga dengan tempat makanan dan minuman, karena di sepanjang jalan di kota ini banyak berjejeran rumah makan dan restoran yang menyajikan berbagai menu, sehingga para wisatawan dapat memilih tempat yang sesuai dengan selera guna bersantap ria.
A. Selayang Pandang
Tradisi Upacara Posuo yang berkembang di Sulawesi Tenggara (Buton) sudah berlangsung sejak zaman Kesultanan Buton. Upacara Posuo diadakan sebagai sarana untuk peralihan status seorang gadis dari remaja (labuabua) menjadi dewasa (kalambe), serta untuk mempersiapkan mentalnya.
Upacara tersebut dilaksanakan selama delapan hari delapan malam dalam ruangan khusus yang oleh mayarakat setempat disebut dengan suo. Selama dikurung di suo, para peserta dijauhkan dari pengaruh dunia luar, baik dari keluarga maupun lingkungan sekitarnya. Para peserta hanya boleh berhubungan dengan bhisa (pemimpin Upacara Posuo) yang telah ditunjuk oleh pemangku adat setempat. Para bhisa akan membimbing dan memberi petuah berupa pesan moral, spiritual, dan pengetahun membina keluarga yang baik kepada para peserta.
Dalam perkembangan masyarakat Buton, ada 3 jenis Posuo yang mereka kenal dan sampai saat ini upacara tersebut masih berkembang. Pertama, Posuo Wolio, merupakan tradisi Posuo awal yang berkembang dalam masyarakat Buton. Kedua, Posuo Johoro yang berasal dari Johor-Melayu (Malaysia) dan ketiga, Posuo Arabu yang berkembang setelah Islam masuk ke Buton. Posuo Arabu merupakan hasil modifikasi nilai-nilai Posuo Wolio dengan nilai-nilai ajaran agama Islam. Posuo ini diadaptasi oleh Syekh Haji Abdul Ghaniyyu, seorang ulama besar Buton yang hidup pada pertengahan abad XIX yang menjabat sebagai Kenipulu di Kesultanan Buton di bawah kepemimpinan Sultan Buton XXIX Muhammad Aydrus Qaimuddin. Tradisi Posuo Arabu inilah yang masih sering dilaksanakan oleh masyarakat Buton.
B. Keistimewaan
Keistimewaan Upacara Posuo terletak pada prosesinya. Ada tiga tahap yang mesti dilalui oleh para peserta agar mendapat status sebagai gadis dewasa. Pertama, sesi pauncura atau pengukuhan peserta sebagai calon peserta Posuo. Pada tahap ini prosesi dilakukan oleh bhisa senior (parika). Acara tersebut dimulai dengan tunuana dupa (membakar kemenyan) kemudian dilanjutkan dengan pembacaan doa. Setelah pembacaan doa selesai, parika melakukan panimpa (pemberkatan) kepada para peserta dengan memberikan sapuan asap kemenyan ke tubuh calon. Setelah itu, parika menyampaikan dua pesan, yaitu menjelaskan tujuan dari diadakannya upacara Posuo diiringi dengan pembacaan nama-nama para peserta upacara dan memberitahu kepada seluruh peserta dan juga keluarga bahwa selama upacara dilangsungkan, para peserta diisolasi dari dunia luar dan hanya boleh berhubungan dengan bhisa yang bertugas menemani para peserta yang sudah ditunjuk oleh pemangku adat.
Kedua, sesi bhaliana yimpo. Kegiatan ini dilaksanakan setelah upacara berjalan selama lima hari. Pada tahap ini para peserta diubah posisinya. Jika sebelummnya arah kepala menghadap ke selatan dan kaki ke arah utara, pada tahap ini kepala peserta dihadapkan ke arah barat dan kaki ke arah timur. Sesi ini berlangsung sampai hari ke tujuh.
Ketiga, sesi mata kariya. Tahap ini biasanya dilakukan tepat pada malam ke delapan dengan memandikan seluruh peserta yang ikut dalam Upacara Posuo menggunakan wadah bhosu (berupa buyung yang terbuat dari tanah liat). Khusus para peserta yang siap menikah, airnya dicampur dengan bunga cempaka dan bunga kamboja. Setelah selesai mandi, seluruh peserta didandani dengan busana ajo kalembe (khusus pakaian gadis dewasa). Biasanya peresmian tersebut dipimpin oleh istri moji (pejabat Masjid Keraton Buton).
Semua Upacara Posuo dimaksudkan untuk menguji kesucian (keperawanan) seorang gadis. Biasanya hal ini dapat dilihat dari ada atau tidaknya gendang yang pecah saat ditabuh oleh para bhisa. Jika ada gendang yang pecah, menunjukkan ada di antara peserta Posuo yang sudah tidak perawan dan jika tidak ada gendang yang pecah berarti para peserta diyakini masih perawan.
C. Lokasi
Upacara Posuo diadakan di Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara, Indonesia.
D. Akses
Untuk mencapai lokasi, perjalanan dimulai dari Kota Kendari ke Bau-Bau dengan menggunakan pesawat perintis atau kapal laut. Jika menggunakan pesawat perintis, perjalanan ditempuh sekitar 1 jam dan jika menggunakan kapal laut, waktu tempuh sekitar 4 jam.
E. Harga Tiket
Pengunjung yang datang tidak dipungut biaya.
F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya.
Di kota tempat diadakan Upacara Posuo, banyak tersedia hotel yang nyaman untuk menginap mulai dari hotel berbintang sampai hotel kelas melati. Begitu juga dengan tempat makanan dan minuman, karena di sepanjang jalan di kota ini banyak berjejeran rumah makan dan restoran yang menyajikan berbagai menu, sehingga para wisatawan dapat memilih tempat yang sesuai dengan selera guna bersantap ria.
Langganan:
Postingan (Atom)
