Rabu, 11 November 2009

Suku Kubu Selayaknya Dilindungi Hukum

Anak Rimba.
Primitif. Begitulah kesan pertama masyarakat kota (orang terang) saat melihat orang rimba. Orang terang sering menyebut mereka orang kubu. Kata kubu sering dimaknai sebagai ejekan yang artinya bodoh. Keprimitifan orang rimba sering menjadi objek manipulasi sejumlah oknum.

Orang rimba yang mendiami Taman Nasional Bukit Dua Belas, Jambi, sangat kovensional. Penampilan mereka boleh dibilang sedikit “erotis.” Sebab kaum pria orang rimba tidak berbaju, mereka hanya mengenakan cawat—sejenis celana. Terlepas dari semua itu, pria yang sudah berkeluarga harus tunduk pada istri.

Pemerintah perlu membuat peraturan untuk melindungi dan mengakui keberadaan Orang Rimba. Kelompok Makekal Bersatu (Kelompok Orang Rimba Makekal Kabupaten Sarolangun), didampingi sejumlah aktivis Koalisi Perjuangan Hak Asasi Manusia (KoperHAM) mengungkapkan hal itu di Jambi, Selasa.

KoperHAM beranggotakan LSM/aktivis lingkungan KMB, Walhi Jambi, Persatuan Petani Jambi, PBHI Sumbar, dan Sokola.

Ketua Kelompok Makekal Bersatu,Pangendum mengatakan peraturan itu amat mendesak terkait berbagai masalah dan kasus yang dialami masyarakat adat Orang Rimba yang tersebar di Taman Nasional Bukit Dua Belas (TNBD) Kab. Sarolangun dan di luar kawasan taman nasional itu.

Puncak masalah yang dihadapi masyarakat adat Kubu, seperti dilaporkan kapanlagi.com adalah adanya Rencana Pengelolaan TNBD (RPTNBD) dengan sistem zonasi, karenanya RPTNBD harus direvisi.

Beberapa peristiwa kekerasan dan penganiayaan yang dialami warga SAD dalam beberapa bulan terakhir telah diindentifikasi seperti tentang penembakan oleh oknum polisi, penyerangan masyarakat transmigrasi bersama masyarakat dusun, dan pengusiran Orang Rimba.

Lalu kasus penganiayaan oleh aparat keamanan perusahaan kayu, perbuatan tidak senonoh, pembakaran tempat tinggal suku anak dalam yang sebagian besar masih mengembara di hutan tersebut.

Selain terkait tindak pidana peristiwa di atas memperlihatkan indikasi pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM).

Orang Rimba mendesak aparat hukum agar bertindak melindungi mereka dari anarkis orang luar atau kelompok lain dengan alasan apapun.


Loyalitas Tinggi


ImageHal yang menarik dari orang rimba ialah loyalitas mereka pada adat. Bagi mereka adat juga berfungsi sebagai tameng dari kebrutalan dunia luar. Salah satu contoh, wanita yang belum menikah berjalan dengan laki-laki sangat dilarang.

Tidak hanya itu saja, adat orang rimba juga melarang berteman dengan orang terang yang memasuki hutan, ditenggarai orang terang membawa penyakit. Tradisi lainnya, bila salah seorang anggota keluarga mereka meninggal dunia, mereka akan bepergian jauh, mengarungi hutan untuk mengusir kesedihan.


Semakin banyak anggota keluarga maupun kelompok mereka semakin jauh pula mereka mengarungi hutan. Maka jangan heran bila mereka memiliki kebiasaan nomaden. Uniknya lagi dalam kesehariannya anak-anak boleh membentak orangtua, jika dipaksa berkerja. Adat rimba menegaskan, bagi yang melanggar peraturan diwajibkan membayar denda. Denda yang mereka bayarkan bukanlah berupa uang, melainkan kain yang merupakan alat tukar (uang) orang rimba.

Perekonomian orang rimba bergantung pada hasil hutan yang sekarang sudah mulai berkurang. Mata pencaharian orang rimba mengandalkan getah karet, madu. Tradisi unik ketika orang rimba mengambil madu yang terdapat di pohon besar dengan ketinggian mencapai dua puluh meter lebih yaitu mereka membacakan mantra pengusir roh halus yang menjaga pohon tersebut sebelum memanjat.

Bagi orang rimba, hutan merupakan rumah. Rumah yang memberikan mereka segalanya Sekarang, jarang sekali media yang mewartakan pertambahan areal hutan, justru sebaliknya.

Orang rimba sangat sulit menerima edukasi. Bukan mereka bodoh atau ber-IQ jongkok. Melainkan dalam kepercayaan mereka, pendidikan dilarang karena akan mengundang cemeti dari sang dewa. Kita tidak bisa menyalahkan begitu saja kepercayaan orang rimba. Itulah yang menyebabkan sebagian orang rimba masih buta aksara.

Kondisi seperti inilah yang mengundang Saur Marlina Manurung atau yang lebih akrab dikenal Butet Manurung. Sarjana Antropologi dan Bahasa dan Satra Indonesia UNPAD sekaligus penulis buku ini kepincut mengarungi hutan Jambi. Butet yang dulunya bergabung dengan WARSI mencoba untuk memberikan pendidikan kepada masyarakat rimba.

Perjuangan yang dihadapi Butet amatlah berat. Kondisi hutan yang rapat sepi, bahaya mengintai setiap saat baik itu dari binatang buas, orang rimba sendiri maupun pelaku illegal logging yang selalu mencurigai gerak gerik Butet, membuatnya harus berinteraksi dengan orang rimba. Peraih Heroes of Asia Award, 2004 ini mencintai status sebagai seorang guru anak-anak orang rimba. Sebelumnya Butet mengalami bermacam perlakuan yang benar-benar menguji dirinya dari orang rimba.

ImageSokola Rimba merupakan model sekolah yang dirintis oleh penulis dan kawan-kawan dengan tujuan membantu orang rimba dari ketertindasan. Dari catatan harian penulis dapat diketahui, sangat sulit kiranya meyakinkan orang rimba bahwa pendidikan.

Ternyata orang rimba tak sebodoh dikira. Mereka memiliki daya tangkap dan ingat yang tidak jauh beda dibandingkan dengan anak orang terang. Anak-anak orang rimba yang belajar aksara terkadang mereka belajar di bawah tekanan adat. Akat tetapi, semangat yang tinggi membuat mereka semakin haus akan pendidikan. Sehingga mereka ingin terus belajar meskipun di bawah tekanan, namun itu bisa mereka tepis.

Arti penting edukasi juga ditularkan pada sesama. Hingga saat ini Sokola Rimba telah melahirkan kader-kader guru yang berasal dari anak rimba untuk anak rimba sendirinya. Para kader ini sudah mampu membaca dan menulis, tidak sekadar itu saja mereka juga mengerti hukum.

Dalam bukunya, Sekolah Rimba Butet Manurung menceritakan perjalanan awalnya memasuki kawasan hutan yang dihuni oleh orang rimba. Ia sangat ekspresif menceritakan bagaimana ia meyakinkan orang rimba bahwa pendidikan sangat penting. Selama di rimba ia pun menjadi guru bagi anak negeri yang masih terisolasi itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar